Beranda > Assunnah, Biografi > Perjalanan Hidup Nabi Muhammad

Perjalanan Hidup Nabi Muhammad


muhammad-rasool-allahPada tulisan ini kami ingin membahas secara singkat sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya sertakan tahun Hijriyah dan Masehi untuk memudahkan memahami kronologi perjalanan hidup beliau.  Tidak dipungkiri ada beberapa perbedaan pendapat para ulama dan ahli sejarah tentang penetapan tanggal untuk beberapa peristiwa  dalam sirah Nabi Muhammad. Namun, agar ringkas dan mudah dicerna disini saya menyampaikan sesuai yang dikuatkan oleh syaikh Shofiyurrahman Mubarakfuri dalam kitab sirah beliau Ar Rahiqu Al Makhtum. Semoga bermanfaat.

Kelahiran Nabi Muhammad (9 Rabi’ul Awwal /20 atau 22 April 571 M)

Nabi Muhammad dilahirkan di tahun gajah, tahun dimana Abrahah dengan pasukan bergajahnya gagal menyerang Ka’bah. Lahir pada hari Senin berdasarkan sabda Nabi tatkala ditanya tentang puasa hari Senin (HR Muslim 1162). Adapun bulan dan tanggal kelahirannya terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awal dan sebagian ulama’ berpendapat pada tanggal 9 dari bulan yang sama. Bapak beliau bernama Abdullah bin Abdilmuthallib bin Hasyim dari suku Quraisy, sedang ibu beliau bernama Aminah. Bapak beliau meninggal di Yatsrib (Madinah) saat beliau masih dalam kandungan.

Diasuh Halimah (sampai umur 4 atau 5 tahun)

Salah satu kebiasaan kaum Quraisy adalah menitipkan dan menyusukan bayi-bayi mereka kepada wanita-wanita di daerah badwi (pedalaman) agar fasih lisan Arabnya dan terhindar dari penyakit yang biasa tersebar di kota. Nabi Muhammad dititipkan kepada seorang wanita bernama Halimah dari bani Saad. Keberadaan Nabi Muhammad membawa keberkahan di keluarga Halimah. Muhammad dirawat Halimah sampai umur 4 atau 5 tahun. Kemudian terjadi peristiwa dibelahnya dada Rasulullah oleh malaikat Jibril kemudian hatinya dicuci dengan air zamzam.

Diasuh kembali oleh Ibunya (sampai umur 6 tahun)

Setelah terjadi peristiwa pembelahan dada oleh malaikat Jibril maka Halimah khawatir kemudian mengembalikan Nabi Muhammad pada ibunya. Nabi Muhammad pun diasuh ibunya sampai sekitar umur 6 tahun. Ibunya meninggal di daerah Abwa’ (antara Madinah dan Mekah) saat perjalanan balik dari menziarahi kuburan suaminya (bapak Nabi Muhammad) di Madinah.

Diasuh kakeknya (sampai umur 8 tahun) kemudian pamannya

Kemudian Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdulmuthallib. Abdulmuthallib wafat saat nabi Muhammad menginjak usia sekitar 8 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Abu Thalib mengasuh dan melindungi beliau dengan baik. Bahkan sampai dewasa, hampir sekitar 40 tahun terus melindungi beliau.

Diajak ke Syam (umur 12 tahun)

Abu Thalib mengajak Muhammad ke Syam saat umurnya sekitar 12 tahun. Ketika hampir sampai di Syam mereka bertemu dengan seorang rahib (pendeta) dikenal dengan Buhaira, namanya aslinya Jarjisy. Rahib ini mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Dia menyarankan Abu Thalib untuk membawa kembali Muhammad muda ke Mekah karena takut nanti akan diganggu orang-orang Yahudi. Abu Thalib pun mengikuti saran tersebut.

Perang Fijar dan Perjanjian Fudhul (umur 15 tahun)

Saat umur Nabi Muhammad sekitar 15 tahun terjadi perang Fijar, perang antara Quraisy bersama Kinanah melawan Aus Aylan. Disebut perang Fijar karena melanggar kehormatan daerah haram (Mekah) dan terjadi di bulan-bulan Haram juga. Awalnya di pagi hari kemenangan ada di pihak bani Aus tetapi di siang hari keadaan berbalik, kemenangan di pihak Kinanah. Diantara rentetan perang Fijar ini kemudian terjadi perjanjian Fudhul. Pada perjanjian Fudhul ini suku-suku Quraisy berkumpul dan sepakat untuk menolong siapa saja yang dizhalimi di daerah haram (Mekah) baik penduduk aslinya maupun kaum pendatang.

Menikah dengan Khadijah (umur 25 tahun)

Sekitar umur 25 tahun Nabi Muhammad ke Syam membawa dagangan Khadijah, seorang wanita terpandang dan kaya dari kaum Quraisy. Saat itu Khadijah berstatus janda dan umurnya sekitar 40 tahun, banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya tetapi ditolak. Nabi Muhammad kembali dari Syam dengan keuntungan yang cukup banyak. Mendengar penuturan Maisarah, budak yang menyertai Nabi Muhammad ke Syam, tentang pribadi Muhammad yang sangat jujur dan amanah maka hati Khadijah pun tertarik. Nabi Muhammad kemudian menikah dengan Khadijah dan beliau tidak menikahi wanita lain sampai wafatnya Khadijah. Seluruh anak Nabi Muhammad – selain Ibrahim – berasal dari Khadijah.   Anak yang pertama Qasim -karenanya beliau berkunyah Abul Qasim-, kemudian Zainab, Ruqayah, Ummul Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Seluruh putranya wafat diusia kecil dan sedang putrinya tumbuh dewasa kemudian masuk Islam. Tetapi kemudian putri-putri beliau pun meninggal mendahului beliau kecuali Fathimah yang mana meninggal enam bulan setelah beliau wafat.

Peristiwa perbaikan Ka’bah (umur 35 tahun)

Kaum Quraisy melakukan perbaikan Ka’bah setelah sebelumnya Mekah diterjang banjir sehingga menyebabkan beberapa kerusakan di ka’bah. Hal ini terjadi sekitar 5 tahun sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Suku-suku Qurasih pun bahu-membahu membangun ka’bah dan mereka bersepakat tidak memasukan harta haram untuk pembangunan ka’bah karena kedudukannya yang begitu mulia. Menjelang peletakan Hajar Aswad ketempatnya semua terjadi perselisihan. Perselisihan berlanjut sampai 4 atau lebih hampir-hampir mereka saling menumpahkan darah karenanya. Kemudian mereka bersepakat untuk menjadikan orang yang pertama kali masuk pintu Masjidil Haram sebagai hakim atas perselisihan mereka. Allah menakdirkan Nabi Muhammad sebagai orang yang pertama kali masuk pintu Masjidil Haram. Mereka mengatakan, “Telah datang al amin (yang terpercaya), maka kami pun ridha dia sebagai penengah atas perselisihan kita.” Nabi Muhammad pun membentangkan surbannya, meletakkan hajar aswad di tengahnya, kemudian meminta seluruh pemuka kaum Quraisy memegang ujung-ujungnya. Setelah dekat tempat peletakkan maka beliau sendiri yang mengangkat hajar aswadnya.

Uzlah di gua Hira’ dan turun wahyu (umur 40 tahun)

Menjelang umur 40 tahun Muhammad sering ber-uzlah (menyendiri) ke gua Hira’ yang terletak di gunung Nur, sekitar  2 mil dari Mekah. Hal ini beliau lakukan hampir sekitar 3 tahun. Beliau beruzlah memikirkan keadaan kaumnya yang diliputi kejahiliyahan (kebodohan) dan kesyirikan. Menjelang nubuwah beliau mimpi melihat ufuk yang sangat terang dan hal ini terjadi selama hampir 6 bulan berturut-turut. Kemudian datanglah malaikat Jibril mewahyukan kepada beliau surat yang pertama kali turun dari al Qur’an yaitu surat al Alaq (“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”… dst).  Berdasar penelitian, turunnya wahyu ini terjadi pada hari Senin setelah berlalu 21 hari di bulan Ramadhan (di malam hari). Bertepatan 10 Agustus 610M.

Setelah turun wahyu yang pertama Nabi Muhammad ketakutan kemudian balik ke rumah dan minta dikemuli Khadijah sampai hilang rasa takutnya. Setelah mereka menceritakan apa yang terjadi pada Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nashrani, dia mengatakan bahwa itu adalah Namush (Jibril) yang dulu datang memberi wahyu pada Musa.  Setelah berselang beberapa hari kemudian turun wahyu kedua. Saat itu Rasulullah sedang berjalan, kemudian terdengar suara dari langit. Saat beliau mengangkat kepala ternyata ada malaikat yang dia lihat di gua hira’ sebelumnya (yaitu Jibril). Beliau pun pulang kemudian minta diselimuti oleh keluarganya lalu turunlah surat al Mudatsir (“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!” ..dst).  Dengan demikian telah jelas bagi beliau bahwa beliau mengemban amanah yang baru yang begitu agung, yaitu amanah kenabian dan kerasulan. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan risalah dari Tuhan semesta alam untuk manusia seluruhnya.

Marhalah dakwah

Secara global marhalah (fase) dakwah Nabi Muhammad dapat dibagi menjadi dua:

1). Fase dakwah di Mekah (sekitar 13 tahun)

2). Fase dakwah di Madinah (10 tahun)

Fase dakwah di Mekah dapat diperinci lagi menjadi tiga:

  • Dakwah sembunyi-sembunyi (sirriyah), sekitar 3 tahun
  • Dakwah terbuka untuk ahli Mekah, tahun ke3 sampai tahun ke-10
  • Dakwah untuk sekitar ahli Mekah, setelah tahun ke-10 sampai hijrah ke Madinah

Dakwah personal dan sembunyi-sembunyi (tahun ke 1-3 dari kenabian)

Beliau pun mulai berdakwah kepada keluarga dan orang-orang terdekat secara personal dan sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak pada tauhid, iman pada hari akhir, dan yang lainnya dari pokok-pokok aqidah. Orang yang pertama-tama masuk Islam adalah Khadijah (istri), Zaid bin Haritsah (budak beliau), Ali bin Abi Thalib (ponakan) dan Abu Bakar Ash Shidiq (sahabat karib). Kemudian dengan perantara Abu Bakar masuk islamlah Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan Tholhah bin Ubaidillah. Kemudian masuk Islam pula beberapa sahabat yang lainnya yang termasuk dalam as sabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam)-semoga Allah meridhai mereka semua-.

Dakwah terbuka untuk ahli Mekah (tahun ke 3-10 dari kenabian)

Setelah dakwah secara personal dan sembunyi-sembunyi kemudian Allah memerintahkan RasulNya untuk menyeru manusia secara umum dan terang-terangan. Diantaranya Allah menurunkan surat Asy Syu’ara’ 214, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” Rasulullah mengundang kerabat terdekatnya, bani Hasyim dan bani Abdilmuthallib, dan menyeru mereka untuk masuk Islam. Rasulullah juga menyeru kaum Quraisy secara umum di bukit Shofa dan mengajak mereka bertauhid. Rasulullah juga mulai terang-terangan menjelaskan batilnya berhala-berhala yang disembah kaum musyrikin. Kaum musyrikin pun marah dan menghalang-halangi manusia untuk masuk agama Islam yang haq yang dibawa oleh nabi Muhammad. Bahkan kaum musyrikin juga menyakiti orang-orang yang baru masuk Islam terutama orang-orang yang lemah.  Namun, meskipun kondisinya sulit dan penuh tekanan ternyata makin banyak orang yang masuk Islam, diantaranya Hamzah bin Abdilmuthollib dan Umar bin Khattab (sekitar tahun ke 6 kenabian). Kaum musyirikn Quraisy memboikot bani Hasyim hampir selama tiga tahun penuh (tahun 8-10 kenabian). Pada tahun 10 kenabian paman beliau Abu Thalib dan istri beliau Khadijah meninggal. Rasulullah kemudian menghibur diri dengan berdakwah keluar Mekah, yaitu ke daerah Tha’if.  Rasulullah kemudian menikah dengan Saudah binti Zam’ah.

Dakwah untuk sekitar ahli Mekah (setelah tahun ke-10 kenabian sampai hijrah)

Setelah sebelumnya Nabi Muhammad fokus menyeru kaumnya, suku Quraisy Mekah, kemudian beliau menyeru suku-suku Arab yang lainnya.  Beliau menyeru penduduk Tha’if  untuk masuk Islam (Syawal tahun ke-10 kenabian/tahun 619 masehi). Tidak sekedar menolak, penduduk Tha’if malah melempari batu saat beliau kembali sehingga kaki beliau berdarah-darah. Beliau tetap sabar dan mendoakan agar kaumnya mendapat hidayah. Beliau menyeru kabilah-kabilah Arab yang datang ke Mekah di musim haji. Pada fase ini terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dimana Rasulullah dibawa ke Baitul Maqdis di Palestina dan kemudian diangkat ke atas langit. Pada peristiwa isra’ mi’raj ini Rasulullah di perintahkan sholat lima waktu langsung oleh Allah ta’ala. Rasulullah menikah dengan Aisyah pada bulan Syawal tahun ke 11 kenabian, tetapi baru tinggal serumah setelah hijrah ke Madinah.

Pada fase ini juga terjadi baiat Aqabah, baiat antara Rasulullah dan orang-orang Madinah yang masuk Islam. Baiat Aqabah pertanya terjadi pada musim haji tahun ke-12 kenabian (621M). Diantara hasil baiat Aqabah yang pertama adalah Rasulullah mengirim utusan, yaitu Mush’ab bin Umair, untuk mengajari dan mengajak penduduk Madinah masuk Islam. Dakwah Mush’ab di Madinah pun membawakan hasil yang gemilang, apalagi setelah dua pemuka Madinah masuk Islam (Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair). Pada baiat Aqabah kedua (musim haji tahun ke-13 kenabian/ Juni 622 masehi), terjadi kesepakatan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah.

Hijrah ke Madinah (1 H/622M)

Setelah baiat Aqabah yang kedua maka kaum muslimin Mekah berbondong-bondong hijrah ke Madinah. Tidak lebih dari dua bulan dan beberapa hari setelah itu hampir seluruh sahabat sudah hijrah ke Madinah. Tinggal tersisa Rasulullah, Abu Bakar, Ali dan beberapa sahabat yang lainnya di Mekah. “Parlemen Quraisy” (Darul Nadwa) membuat kesepakatan untuk membunuh Nabi Muhammad. Mereka mengumpulkan pemuda dari masing-masing kabilah Quraisy untuk mengepung dan membunuh Nabi Muhammad di malam hari. Tetapi Allah Maha Mampu membalas makar mereka. Ali bin Abi Thalib menggantikan Nabi Muhammad tidur diatas ranjangnya. Allah menutupi pandangan mereka saat Nabi Muhammad keluar rumah. Nabi Muhammad kemudian ditemani Abu Bakar keluar dari Mekah. Mereka tinggal di sebuah gua di gunung Tsur selama kurang lebih 3 hari. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke arah tepi laut Merah kemudian ke utara menuju Madinah. Kaum Quraisy mengadakan sayembara dengan hadiah yang begitu besar (100 ekor onta) bagi siapa saja yang bisa menangkap Nabi Muhammad dan Abu Bakar baik hidup maupun mati. Suraqah bin Malik sempat mampu mengejar keduanya tetapi kemudian jatuh beberapa kali dan akhirnya masuk Islam. Nabi Muhammad dan Abu Bakar pun sampai di Madinah dengan selamat.

Marhalah dakwah di Madinah (1-11H)

Sebelum masuk kota Madinah beliau singgah dulu di daerah Quba’ beberapa hari dan mendirikan masjid disana (Masjid Quba’). Kemudian beliau masuk kota Madinah disambut kaum muslimin (Muhajirin dan Anshor) dengan penuh kebahagiaan. Hal pertama kali beliau lakukan adalah mendirikan masjid (Masjid Nabawi) kemudian mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshor. Beliau kemudian juga membuat pernjanjian dengan penduduk Madinah dan sekitarnya baik dari kalangan kaum muslimin, ahli kitab (yahudi) maupun yang lainnya. Secara umum marhalan (fase) dakwah di Madinah dapat diperinci menjadi tiga tahap:

  • Masa-masa awal hijrah(tahun 1-6H)
  • Antara perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Mekah (6-8)
  • Setelah Fathu Mekah )8-11H)

Turun Izin berperang dan peperangan sebelum Badar (1-2 H)

Sebagaimana diketahui, sebelumnya saat Rasulullah dan para sahabat masih tinggal di Mekah mereka mendapatkan tekanan yang luar biasa dari kaum musyrikin Quraisy. Kaum musyrikin tidak sekedar menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad tetapi mereka juga menghalangi, mengganggu orang-orang yang beriman dan bahkan menyiksa mereka. Akhirnya Rasulullah dan para sahabat terpaksa hijrah ke Madinah meninggalkan rumah dan harta yang mereka miliki. Setelah hijrah permusuhan dan gangguan orang-orang musyrik tidak pula berhenti. Allah pun mengizinkan kaum muslimin untuk berperang. Allah berfirma, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS Al Hajj 39). Kaum Muslimin mulai menyusun kekuatan militer dan melakukan ekspedisi militer menghalau kafilah dagang kaum Quraisy ke Syam.

Diantara ghazwah/peperangan (dipimpin Nabi Muhammad secara langsung) dan sariyah (ekspedisi militer yang tidak dipimpin oleh Nabi Muhammad secara langsung) yang terjadi sebelum perang badar adalah:

Ekspedisi Saiful Bahr (Ramadhan 1 H/Maret 623M).

Rasulullah memerintahkan Hamzah bin Abdilmutholib memimpin sekitar 30 sahabat Muhajirin untuk menghalau kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Jahal bin Hisyam bersama sekitar 300 laki-laki Quraisy.  Ini adalah ekspedisi militer pertama dalam Islam. Kedua pasukan sempat berhadap-hadapan tetapi kemudian tidak jadi berperang karena ditengahi oleh Majdi bin Amr Al Juhaniy, dia adalah sekutu dari kedua belah pihak.

Ekspedisi Rabigh (Syawal 1H/April 623M)

Pasukan berkendaraan yang terdiri 60 sahabat Muhajirin yang dipimpin oleh Ubaidah bin Harits bin Abdilmutholib menghalau kafilah dagang Quraisy di daerah Rabigh yang dipimpin Abu Sufyan.

Ekspedisi Kharar (Dzulqa’dah 1H/Mei 623H)

Pasukan berkendaraan yang terdiri 20 sahabat yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash menghalau kafilah dagang Quraisy.

Perang Abwa’ (Safar 2H/Agustus 623H)

Rasulullah sendiri yang memimping sekitar 70 sahabat Muhajirin untuk menghalau kafilah dagang Quraisy. Rasulullah juga menjalin perjanjian damai dengan bani Dhamrah.

Perang Buwath (Rabi’ Awwal 2H/September 623M)

Rasulullah memimpin sekitar 200 orang sahabat untuk menghalau kafilah dagang Quraisy yang disana ada Umayah bin Khalaf bersama sekitar 100 orang laki-laki Quraisy. Tetapi kafilah Quraisy ternyata telah lewat.

Perang Safwan (Rabi’ Awwal 2H/September 623M)

Segelintir pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Kurz bin Jabir Al Fihri merampok ternak penduduk Madinah. Rasulullah pun mengejarnya bersama sekitar 70 orang sahabat sampai sekitar daerah Badar. Tetapi kaum musyrikin berhasil kabur. Perang ini kadang disebut perang Badar pertama.

Perang Dzul Asyirah (Jumadil Awal-Jumadil Akhir 2H/Nov-Desember 623M)

Rasulullah bersama dengan sekitar 150 orang sahabat berusaha menghalau kafilah Quraisy yang berangkat ke Syam. Kafilah ternyata sudah lewat beberapa hari sebelumnya.

Ekspedisi Nakhlah (Rajab 2H/Januari 624M)

Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Jahsy bersama 12 sahabat untuk mencari berita tentang kafilah Quraisy di daerah Nakhlah, antara Mekah dan Tho’if.  Kafilah Quraisy lewat di akhir bulan Rajab (salah satu bulan yang diharamkan), kalau dibiarkan sampai selesai Rajab maka mereka akan telah masuk Mekah (daerah yang diharamkan berperang juga). Akhirnya Abdullah in Jahsy dan para sahabatnya menyerang mereka dan berhasil membunuh salah seorang diatara pasukan Quraisy, menawan 2 orang dan mengambil daganan mereka untuk dibawa ke Madinah. Rasulullah mengingkari hal ini karena beliau tidak memerintahkan berperang di bulan haram, beliau hanya memerintahkan untuk mencari berita. Allah pun menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah” (QS Al Baqarah: 217). Rasulullah kemudian membebaskan tawanan dan mengembalikan dagangan Quraisy serta membayar diyat orang yang terbunuh kepada keluarganya.

Perang Badar (Ramadhan 2 H/624M)

Perang Badar adalah perang pertama antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Rasulullah keluar Madinah bersama sekitar tiga ratus dan belasan orang sahabat (313, 314, atau 317 orang). Mereka hanya membawa 2 ekor kuda dan sekitar 70-an onta. Rasulullah membagi pasukannya menjadi dua katibah (battalion): katibah Muhajirin dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib dan katibah Anshor dipimpin Saad bin Muadz. Adapun liwa’ (bendera perang) dibawa oleh Mush’ab bin Umair.  Adapun pasukan kaum musyrikin Mekah maka jumlah mereka sekitar 1000 pasukan. Mereka membawa 100 ekor kuda, 600 baju perang dan onta yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Pasukan kaum musyrikin dipimpin oleh Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy yang lainnya. Tidak tersisa pemuka Quraisy di Mekah kecuali Abu Lahab dan juga Abu Sufyan yang masih dalam perjalanan dari Syam.

Kedua pasukan bertemu di lembah Badar (daerah antara Mekah dan Madinah). Kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan yang telak, 70 orang diantara mereka terbunuh dan 70 orang ditawan. Termasuk yang terbunuh adalah Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy lainnya.  Adapun dari pihak kaum muslimin, 14 orang sahabat mati syahid (6 dari muhajirin dan 8 dari anshor) -semoga Allah meridhai mereka-. Peperangan ini menjadi tonggak sejarah baru dalam perkembangan Islam.  Berkaitan perang ini Allah menurunkan surat Anfal yang mana di dalamnya terkandung hukum dan adab yang terkait dengan peperangan.

Peperangan antara Badar dan Uhud (2-3H/624-625M)

–  Perang bani Sulaim di Kadr (Syawal 2 H/624M)

Perang ini terjadi beberapa hari setelah perang Badar. Sebabnya adalah bani Sulaim dari suku Qathafan mempersiapkan pasukan untuk menyerang Madinah. Rasulullah pun duluan menyerbu mereka bersama dengan 200-an sahabat. Bani Sulaim pun kabur dan meninggalkan harta rampasan perang sekitar 500 ekor onta.

Perang bani Qainuqa’ (Syawal 2H/624H)

Bani Qainuqa’ adalah salah satu suku Yahudi yang ada di Madinah. Mereka tinggal di dalam kota Madinah. Mereka melanggar perjanjian yang dibuat dengan kaum muslimin Madinah dan terus berusaha menimbulkan api fitnah. Rasulullah dan kaum muslimin tetap berusaha sabar. Sampai suatu hari ada seorang wanita muslimah yang belanja di pasar bani Qainuqa’. Dia dikerjain salah seorang laki-laki yahudi dengan mengikat ujung kerudungnya dan saat berdiri maka tersingkaplah auratnya. Orang-orang yahudi pun menertawakan wanita muslimah tersebut. Seorang laki-laki dari kaum muslimin yang mengetahui hal ini merasa tidak terima kehormatan wanita muslimah tersebut dipermainkan. Dia pun membunuh orang yahudi tadi dan akhirnya dia balik dikeroyok orang-orang yahudi dan dibunuh juga. Rasulullah dan para sahabat pun akhirnya mengepung mereka di benteng mereka sekitar 15 hari sampai akhirnya mereka menyerah dan diusir dari Madinah.

Perang Sawiq (Dzulhijjah 2H/624M)

Sekitar bulan Dzulhijjah Abu Sufyan bersama sekitar 200 orang pasukan berkendaraan dari Quraisyh menuju Madinah untuk melakukan penyerangan. Tetapi mereka tidak berani melakukan penyerangan secara terbuka. Mereka datang di malam hari di pinggiran Madinah dan mendatangi sekutu-sekutu mereka. Kemudian mereka membakar pagar kebun kurma dan membunuh seorang anshor dan temannya di kebun tersebut kemudian lari balik ke Mekah. Rasulullah pun mengumpulkan pasukan dan melakukan pengejaran. Pasukan Abu Sufyan dengan cepat menyelamatkan diri ke Mekah, tetapi mereka meninggalkan sawiq (roti) berbekalan mereka yang sangat banyak. Akhirnya kejadian ini disebut dengan perang sawiq.

Perang Dzu Amr (Muharram-Safar 3H/624M)

Sebab perang ini adalah bani Tsa’labah bersiap-siap ingin menyerang Madinah. Maka Rasulullah bersama sekitar 450 pasukan pun keluar menuju tempat mereka. Mengetahui kedatangan pasukan kaum muslimin maka musuh pun ketakutan dan melarikan diri. Rasulullah tinggal sekitar satu bulan penuh (bulan Safar 3H) di daerah mereka untuk menimbulkan takut di hati musuh-musuh mereka.

Perang Bahrani (Rabi’ Akhir 3H)

Rasulullah keluar bersama 300 pasukan ke daerah Bahrani. Rasulullah berdiam disitu sekitar sebulan tetapi tidak bertemu dengan musuh kemudian kembali ke Madinah.

Ekspedisi Zaid bin Haritsah (Jumadil Akhir 3H)

Ini adalah ekspedisi/perang terakhir sebelum perang Uhud. Rasulullah mengutus pasukan di bawah Zaid bin Haritsah untuk mencegah kafilah dagang kaum Quraisy yang menuju Syam. Mereka pun berhasil mencegah kafilah dagang tersebut, Shofwan bin Umayah dan pasukan Quraisy yang dia pimpin untuk menjaga kafilah dagang tersebut pun akhirnya melarikan diri. Hal ini menimbulkan kerugian yang besar bagi kaum Quraisy.

Perang Uhud (Syawal 3H)

Setelah kekalahan yang telak di perang Badar dan kafilah dagang mereka yang dicegat pasukan kaum muslimin maka kaum Quraisy bersiap melakukan peperangan total dengan Madinah. Dengan kekuatan sekitar 3000 pasukan dan di dalamnya disertakan beberapa wanita. Mereka kemudian bergerak menuju Madinah dan berhenti di dekat Uhud. Pimpinan tertinggi di tangan Abu Sufyan Al Harbi dan dibantu oleh Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abi Jahal. Mereka membawa sekitar 3000 ekor onta, 200 ekor kuda, 700 baju besi dan perlengkapan lainnya.

Rasulullah menyiapkan pasukan kaum Muslimin di Madinah. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat akhirnya Rasulullah sepakat untuk menghadapi pasukan musuh di luar Madinah. Kekuatan kaum muslimin saat itu sekitar 1000 pasukan, dengan 50 ekor kuda dan 100 baju besi.Pasukan dibagi tiga katibah (batalion): (1)katibah Muhajirin bendera perang dipegang Mush’ab bin Umair, (2) katibah Anshor dari suku Aus bendera dibawa Usaid bin Hudhair, (3) Katiah Anshor dari suku Khazraj bendera dibawa AlHabab bin Mundzir.

Menjelang terjadi peperangan tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafiq yang ada di barisan kaum muslimin memutuskan untuk balik ke Madinah. Jumlah mereka sekitar 300 orang. Sisa pasukan kaum muslimin, sekitar 700 orang sahabat, terus menuju ke daerah Uhud untuk menghadapi musuh.  Perang pun mulai berkecamuk dengan diawali lawan tanding. Awal peperangan dengan jelas keunggulan ada di pihak kaum muslimin hingga pasukan kaum musyrikin mundur. Tetapi ketika sebagian pasukan pemanah yang ditugasi berjaga di atas bukit Rumah melanggar perintah Rasulullah (untuk tetap diatas bukit apa pun kondisinya) maka pasukan kaum musyrikin yang dibawah pimpinan Khalid bin Walid berhasil menyerang balik dari belakang. Peperangan pun kembali berlangsung dengan sengit. Banyak diantara para sahabat rasul yang gugur, terutama dari kalangan Ashor.

Rasulullah dan pasukannya sempat terdesak ke bukit atau celah-celah di kaki gunung Uhud. Tetapi pasukan kaum Quraisy tidak berhasil menyerang lebih jauh dan kemudian mundur dan akhirnya balik ke Mekah. Setelah kaum musyrikin mundur kemudian Rasulullah dan pasukan kaum muslimin turun dan selanjutnya mengumpulkan serta mengubur para syuhada yang gugur di lembah Uhud. 70 pasukan madinah gugur, termasuk di dalamnya Mush’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdilmutholib. Rasulullah sendiri juga mendapat luka yang serius dalam peperangan ini hingga patah gigi gerahamnya. Dari kaum Quraisy tewas sekitar 22 orang, ada yang mengatakan 37 orang.

Perang Hamra’ Al Asad (3H)

Setelah perang Uhud Rasulullah dan pasukan kaum muslimin balik ke Madinah (awal Syawal 3H). Tetapi karena khawatir pasukan Mekah balik menyerang kembali maka Rasulullah dan para sahabat pun keluar dari Madinah menghadang kaum musyrikin sampai daerah Hamra’ Al Asad, sekitar 8 mil dari Madinah, dan mendirikan laskar militer disana. Ternyata benar awalnya kaum musyrikin ingin balik menyerang Madinah kembali tetapi akhirnya mengurungkan niatnya dan terus ke Mekah. Pasukan kaum muslimin pun balik ke Madinah. Peristiwa perang Uhud ini mengandung pelajaran yang berharga bagi kaum Muslimin Diataranya pelajaran yang paling utama adalah pentingnya mentaati perintah Allah dan Rasulnya dalam seluruh kondisi. Allah menurunkan ayat-ayat Al Qur’an berkaitan perang Uhud ini, diantaranya 60 ayat dari surat Ali Imran (mulai ayat 121).

Peperangan antara Uhud dan Ahzab (4-5H)

Setelah perang Uhud terjadi beberapa ekspedisi militer dan peperangan yang dilakukan kaum muslimin. Diantaranya:

–  Ekspedisi Abu Salamah (Muharram 4 H)

Setelah terjadi perang Uhud maka yang pertama kali mempersiapkan diri menyerang kaum muslimin adalah Banu Asad Al Khuzaimah. Rasulullah mengutus Abu Salamah beserta sekitar 150 pasukan muhajirin dan anshor. Musuh pun lari sebelum berperang sehingga kaum muslimin mendapat harta rampasan yang mereka tinggalkan.

Peristiwa utusan Raji’ dan Bi’r Ma’unah (Safar 4 H)

Dua peristiwa memilukan ini hampir mirip dan terjadi di bulan yang sama. Dimana ada kabilah yang pura-pura masuk Islam dan meminta kepada Rasulullah untuk dikirimi utusan untuk mengajari mereka tentang Islam. Rasulullah pun mengirimkan para sahabatnya untuk menjadi da’I yang mengajari mereka Islam. Tetapi ternyata mereka dikhianati dan dibunuh. Pada peristiwa Raji’ ada sekitar 6 sahabat yang dibunuh, sedang para bi’ir maunah ada sekitar 40-70 sahabat. Rasulullah sangat bersedih dengan peristiwa ini dan melakukan qunut hampir selama satu bulan.

  • Perang bani Nadhir (Rabi’ Awal 4H/Agustus 635M)

Yahudi bani Nadhir yang sebenarnya memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin ternyata merencanakan makar yang sangat keji. Mereka berencana membunuh Nabi Muhammad saat beliau bersama beberapa sahabatnya berkunjung ke bani Nadhir karena suatu urusan. Jibril memberitahukan tentang makar mereka sehingga Nabi Muhammad pun segera balik dari kampung bani Nadhir dan mengumpulkan para sahabat untuk mengepung mereka. Setelah dikepung beberapa hari akhirnya bani Nadhir pun menyerah dan kemudian diusir dari kampung mereka menuju Khaibar. Allah menurunkan surat Al Hasyr berkaitan peristiwa ini.

  • Perang Najd (Rabi’ Tsani 4H)

Pada perang ini Rasulullah ingin membuat perhitungan dengan para baduwi dan kabilah-kabilah yang melakukan makar dan berusaha menyusun kekuatan menyerang Madinah. Mereka akhirnya melarikan diri saat mendengar kedatangan Rasulullah dan pasukan kaum muslimin.

  • Perang Badar kedua (Sya’ban 4H/Januari 626M)

Diakhir perang Uhud, kaum kafir Quraisy dan kaum muslimin saling menantang/berjanji untuk berperang kembali di daerah Badar tahun depannya. Rasulullah dan pasukan kaum muslimin pun datang ke Badar sesuai dengan perjanjian. Adapun kaum Quraisy awalnya sempat berangkat meninggalkan kota Mekah untuk menuju Badar, tetapi kemudian ketakutan menyelimuti mereka sehingga balik lagi ke Mekah.

  • Perang Daumatul Jandal (Rabi’ Awal 5H)

Setelah perang Badar kedua kondisi agak kondusif dan aman. Kaum muslimin berdiam di Madinah sekitar 6 bulan tanpa ada peperangan. Sampai kemudian terdengar kabar ada sekawanan pasukan di daerah Daumatul Jandal (dekat Syam) melakukan kekacauan dan bersiap menyerang Madinah. Rasululah pun menyerang mereka bersama sekitar 1000 pasukan. Musuh pun dengan mudah dapat di kalahkan dan sebagian mereka melarikan diri.

Perang Ahzab/Perang Khandaq (Syawal-Duzqa’dah 5H)

Kondisi jazirah Arab relatif stabil hampir selama setahun penuh. Sampai kemudian orang-orang Yahudi (bani Nadhir) merencanakan sebuah makar untuk menghimpun kekuatan melawan kaum muslimin di Madinah. Mereka menghasut kaum kafir Quraisy, kabilah Qathafan dan yang lainnya untuk bersama-sama menyerang kaum muslimin. Mereka pun bersepakat mengepung Madinah, dengan total kekuatan sekitar 10.000 pasukan. Mengetahui hal ini maka Rasulullah pun berdikusi dengan para sahabat untuk mempersiapakan pertahanan di kota Madinah. Akhirnya mereka setuju dengan usul sahabat Salman Al Farisi untuk membuat parit (khandaq) disekitar kota Madinah. Hampir sebulan penuh pasukan musuh mengepung Madinah, tetapi mereka tidak bisa menerobos masuk karena terhalangi parit dan pengamanan yang dilakukan kaum muslimin. Allah pun mengirimkan angin yang memporak-porandakan kemah serta perlengkapan pasukan musuh. Pasukan musuh pun kembali ke negeri masing-masing dan gagal total menaklukkan Madinah.

Perang bani Quraidzah  (5H)

Pada kondisi perang Ahzab yang begitu sulit bagi kaum muslimin di Madinah ternyata yahudi bani Quraidzah melakukan pengkhianatan dari belakang. Mereka membuat kesepakatan bersekongkol dengan pasukan musuh. Setelah pasukan ahzab bercerai-berai maka Rasulullah dan kaum muslimin pun mengepung benteng bani Quraidzah. Mereka kemudian menyerah dan meminta Sa’ad bin Muadz yang memutuskan hukuman bagi mereka, hal ini disetujui Rasulullah. Sa’ad bin Muadz memutuskan bahwa laki-laki mereka dibunuh sedang wanita dan anak-anak mereka ditawan.

Antara perang Ahzab dan Perjanjian Hudaibiyah (6H)

Terjadi beberapa peristiwa atau ekspedisi militer penting setelah perang Ahzab. Diantaranya:

  • Ekspedisi Muhammad bin Maslamah ke bani Bakr (Muharram 6H)
  • Perang bani Lahyan (Rabi’ Awal/Jumadil Awal 6H). Mereka yang membunuh para sahabat yang diutus sebagai da’i dalam peristiwa Raji. Mereka kabur saat Rasulullah dan pasukan kaum muslimin menyerang kampung mereka.
  • Ekspedisi Ukasyah bin Mihran ke Ghamr (Rabi’ Awal/Jumadil Awal 6H)
  • Ekspedisi Mumammad bin Maslamah ke Dzu Qushah (Rabi’ Awal/Akhir 6H)
  • Ekspedisi Abu Ubaidah bin Jarrah ke Dzu Qushah. Untuk membantu ekspedisi sebelumnya.
  • Ekspedisi Zaid bin Haritsah ke Jumum (Rabi’ Akhir 6H), ke ‘Aish (Jumadil Awal 6H), ke Tharf/Tharq (Jumadil Akhir 6H), dan ke Wadi Qura (Rajab 6H).
  • Ekspedisi ke Khabath. Dipimpin Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menghalau kafilah dagang Quraisy. Pada ekspedisi ini pasukan kaum muslimin kelaparan dan kemudian menemukan ikan paus dan mengkonsumsinya hampir setengah bulan.

Perang bani Musthaliq atau Perang Muraisi’ (Sya’ban 6H)

Rasulullah keluar bersama kaum muslimin memerangi bani Musthaliq pada bulan Sya’ban 6H. Musuh dengan mudah dapat dikalahkan. Pada peperangan ini tertawan Juwairiyah binti Harits radhiyallahu anha, yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Pada perang ini juga orang-orang munafiq, yang ikut dalam barisan pasukan kaum muslimin banyak membuat fitnah dan kerisauan. Diantaranya fitnah terhadap ummahatul mukminin Aisyah radhiyallahu anha.

Setelah perang bani Musthaliq ini kemudian terjadi beberapa ekspedisi militer, diantaranya:

  • Ekpedisi Abdurrahman bin Auf ke bani Kalb di Daumatul Jandal (Sya’ban 6H)
  • Ekspedisi Ali bin Abi Thalib ke bani Saad bin Bakr di Fadak (Sya’ban 6H)
  • Ekspedisi Abu Bakar (atau Zaid bin Haritsah) ke Wadi Qura (Ramadhan 6H)
  • Ekspedisi Kurz Al Fihriy ke Urnayain (Syawal 6H)

Perjanjian Hudaibiyah (Dzulqa’dah 6H)

Setelah melihat kondisi yang mulai kondusif maka Rasulullah melihat sudah saatnya kaum muslimin untuk dapat melakukan umrah kembali setelah hampir 6 tahun meninggalkan Mekah. Terlebih lagi Rasulullah juga melihat dalam mimpi melakukan manasik ke masjidil haram dan kemudian mencukur rambut. Maka pada bulan Dzulqa’dah 6H Rasulullah dan kaum muslimin pun bersiap-siap melakukan perjalanan ke Mekah untuk umrah, bukan untuk berperang. Pada awalnya kaum Quraisy berupaya sekuat tenaga untuk menghalangi mereka hingga hampir terjadi perang. Namun setelah dilakukan negosiasi akhirnya dicapai kesepakatan untuk mencari jalan tengah dan menghindari terjadinya pertumpahan darah. Sempat ada isu bahwa Utsman bin Affan yang dikirim oleh pihak kaum muslimin masuk ke kota Mekah terbunuh. Terjadilah peristiwa Bai’atur Ridwan sebagaimana diabadikan dalam surat Al Fath ayat ke-18. Setelah diskusi beberapa kali akhirnya tercapailah butir-butir penjanjian, diantaranya sepakat untuk gencatan senjata selama 10 tahun. Sesuai dengan salah satu butir perjanjian Rasulullah dan kaum muslimin tidak jadi umrah pada tahun tersebut lalu balik ke Madinah.

Perkembangan baru setelah perjanjian Hudaibiyah

Dalam butir-butir perjanjian ini seolah-olah kaum muslimin dalam posisi yang lemah/kalah tetapi sesungguhnya di dalamnya ada kemenangan yang nyata. Perjanjian Hudaibiyah ini juga disebut dengan fathan mubiina atau kemenangan yang nyata (lihat surat Al Fath). Banyak kabilah yang menyatakan masuk Islam atau menjalin aliansi dengan Madinah setelah perjanjian ini. Beberapa pemuka Quraisy pun masuk Islam diantaranya Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Melihat kondisi yang kondusif maka dari sisi dakwah Rasulullah menulis surat kepada para pemimpin dan para raja untuk masuk Islam. Diantaranya:

  • Surat ke Najasyi raja Habasyah dibawah oleh Amr bin Umayah Dhamary. Najasyi pun masuk Islam.
  • Surat ke Muqauqis raja Mesir dibawa Hatib bin Balta’ah. Muqauqis belum bersedia masuk Islam tetapi membalas surat dengan baik.
  • Surat ke Kisra raja Persia dibawah Abdullah bin Hudzafah As Suhamiy. Kisra tidak sekedar menolak bahkan dia marah dan merobek surat tersebut. Tidak selang beberapa lama dia kemudian dikudeta dan dibunuh oleh anaknya sendiri.
  • Surat ke Kaisar raja Rumawi dibawa Duhaiyah bin Khalifah Al Kalbiy
  • Surat ke Mundzir bin Sawiy pemimpin Bahrain dibawa oleh Ala’ bin Hadramiy
  • Surat ke Haudzah di Yamama
  • Surat ke Harits bin Abi Syamr di Damaskus
  • Surat ke raja Oman

Dari sisi militer pada fase ini kaum muslimin melakukan perang Ghabah atau Dzu Qard.  Kemudian setelah itu terjadi perang Khaibar.

Perang Khaibar (Muharram 7H)

Tiga usur penting dari pasukan koalisi (ahzab) yang sebelumnya mengepung Madinah adalah: (1) kafir Quraisy, (2) yahudi (Khaibar) dan (3) kabilah-kabilah Najd lainnya. Setelah kaum muslimin membuat perjanjian damai di Hudaibiyah dengan musuhnya yang paling kuat yaitu suku Quraisy maka sudah waktunya membuat perhitungan dengan musuh yang lainnya.  Rasulullah pun menyiapkan pasukan untuk menyerang yahudi Khaibar (perlu diingat mereka yang pertama-tama menghimpun pasukan koalisi/ahzab untuk mengepung Madinah). Rasulullah keluar ke menuju Khaibar bersama sekitar 1400 pasukan dan melarang kaum munafiqin untuk ikut berperang. Kaum yahudi Khaibar pun berusaha bertahan di benteng mereka yang berlapis-lapis. Dengan izin Allah benteng itu satu persatu dapat diterobos dan akhirnya yahudi menyerah. Kaum muslimin mendapat harta rampasan yang sangat banyak sekali. Kaum yahudi tetap diperbolehkan tinggal di khaibar untuk menggarap tanah dan hasilnya (seperti kurma) dibagi.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah kaum muslimin juga mengadakan peperangan dengan yahudi di Wadi Qura. Yahudi di Wadi Qura pun dengan mudah dapat dikalahkan. Setelah itu kaum muslimin juga membuat perjanjian damai dengan yahudi di Taima’.

Peperangan dan Ekspedisi Militer di Tahun 7 H

Setelah perjanjian damai dengan Quraisy di Hudaibiyah dan ditakhlukannya yahudi di Khaibar maka waktunya membuat perhitungan dengan kabilah-kabilah Arab di Najd (Qathafan). Karena kekuatan kabilah-kabilah tersebut terpencar-pencar dan ada di badwi (pedalaman) maka Rasulullah pun mengurus ekspedisi-ekspedisi militer yang berpencar.

  • Perang Dzatur Riqa’ yang dipimpin Rasulullah sendiri .
  • Ekspedisi Ghalib bin Abdullah AlLaitsi ke bani Muluh di Qudaid
  • Ekspedisi Hasma
  • Ekspedisi Umar bin Khatab ke Turbah
  • Ekspedisi Basyir bin Saad AlAnshory ke bani Murrah di sisi Fadak
  • Ekspedisi Ghalib bin Abdullah AlLaitsy
  • Ekspedisi Abdullah bin Rawahah ke Khaiar
  • Ekspedisi Basyir bin Saad AlAnshory ke Yamn dan Jabar
  • Ekspedisi Abi Hadarah AlAslamiy ke Ghabah

Umroh Qadha’ (Dzulqa’dah 7H)

Pada bulan Dzulqa’dah Rasulullah bersama sekitar 2000 sahabat (selain wanita dan anak-anak) berangkat ke Mekah untuk menunaikan umrah. Ini sebagai pengganti (qadha’) dari umrah tahun sebelumnya tidak jadi karena perjanjian Hudaibiyah. Mereka menunaikan umrah sambil membawa senjata untuk jaga-jaga kalau sewaktu-waktu Quraisy mengingkari perjanjian damai.

Setelah umrah qadha’ terjadi beberapa ekspedisi militer, diantaranya:

  • Ekspedisi Abi Awja’ ke bani Sulaim (Dzulhijjah 7H)
  • Ekspedisi Ghalib bin Abdillah ke daerah Fadak untuk membantu ekspedisi sebelumnya (Safar 8H)
  • Ekspedisi Dzatu Athlah (Rabi’ Awal 8H)
  • Ekspedisi Dzatu ‘Irq ke bani Hawazin (Rabi’ Awal 8H)

Peperangan Mu’tah (Jumadil Awal 8H/Agustus atau September 629M)

Ini adalah perang besar menghadapi pasukan Ramawi di daerah Mu’tah (dekat Syam). Penyebabnya adalah dibunuhnya utusan Rasulullah, Harits bin Umair AlAsdiy. Akhirnya 3000 pasukan kaum muslimin diberangkatkan untuk menghadapi sekitar 200.000 pasukan Romawi. Berdasarkan wasiat Rasulullah pemimpin pasukan kaum muslimin adalah Zaid bin Haritsah, jika tebunuh maka penggantinya adalah Jafar bin Abdilmuthallib kemudian Abdullah bin Rawahah. Tiga pemimpin ini kemudian gugur syahid dan digantikan oleh Khalid bin Walid. Meskipun tidak bisa mengalahkan pasukan musuh tetapi perang ini sangat berarti bagi kedudukan kaum muslimin di seluruh jazirah Arab.

Setelah perang mu’tah ini Rasulullah mengutus ekspedisi militer dibawah Amr bin Ash (Jumadil Akhir 8H) untuk menyerang kabilah yang bersekongkol dengan pasukan Romawi pada perang mu’tah. Karena mendengar jumlah musuh yang besar maka Amr bin Ash minta tambahan pasukan. Kemudia diutus ekspedisi tambahan dibawah Abu Ubaidah bin Jarrah.

 

Fathu Mekah (Ramadhan 8H)

Rasulullah memimpin sebuah pasukan kaum muslimin yang sangat besar, terdiri kurang lebih 10.000 sahabat.  Mereka keluar menuju Mekah untuk membuat perhitungan dengan kaum musyrikin Quraisy dan sekutunya yang telah melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian Hudaibiyah yang disepakati sebelumnya. Bani Bakr (sekutu kaum Quraisy) melanggar perjanjian dengan melakukan penyerangan terhadap bani Khuza’ah (sekutu kaum muslimin). Abu Sufyan, pemuka kaum Quraisy, berusaha melakukan negosiasi untuk memperbarui perjanjian tetapi ditolak oleh Rasulullah, akhirnya dia kembali dengan tangan kosong. Abu Sufyan pun akhirnya masuk Islam saat Rasulullah dan para sahabat sudah mendekati Mekah. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa masuk rumah Abu Sufyan makan dia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka dia aman. Barangsiapa masuk Masjidil Haram maka dia aman.”

Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid memimpin pasukan sayap kanan (terdiri dari pasukan kabilah Aslam, Sulaim dan kabilah Arab lainnya) untuk memasuki Mekah dari daerah atas (arah bukit Shofa) dan memerintahkan Zubair memimpin pasukan sayap kiri untuk memasuki dari daerah bawah (daerah Kida’). Adapun Abu Ubadah bin Jarrah berserta pasukannya diperintahkan menyisir lewat tengah lembah. Kaum kafir Quraisy tidak mampu melakukan perlawanan yang berarti. Rasulullah dengan dikawal pasukan kaum muslimin kemudian memasuki Masjidil Haram. Beliau mengusap hajar aswad kemudian berthowaf dan menghancurkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah sambil membaca firman Allah ta’ala: “Telah datang kebenaran dan hancurlah kebathilan, sesungguhnya kebathilan itu pasti hancur.” (QS Al Isra’: 81).

Beliau kemudian sholat lalu berkhutbah di hadapan orang-orang Quraisy yang telah memenuhi masjidil Haram. Rasulullah memberi ampunan pada mereka. Setelah fathu Mekah Rasulullah tinggal di Mekah selama 19 hari. Beliau juga mengirim utusan untuk menghancurkan berhala di sekitar Mekah. Beliau memerintahkan Khalid bin Walid untuk menghancurkan Uzza, memerintahkan Amr bin Ash untuk menghancurkan Suwa’ dan memerintahkan Saad bin Zaid Al Asyhaliy untuk menghancurkan Manat.  Fathu Mekah telah membuka lembaran baru sejarah perkembangan Islam. Dengan dibebaskannya Ka’bah dan ditaklukkannya Quraisy maka kabilah-kabilah Arab pun berduyun-duyun menyatakan keislamannya.

Perang Hunain dan Pengepungan Tho’if (Syawal 8H)

Setelah fathu Mekah kabilah Hawazin dan Tsaqif berkumpul untuk memerangi kaum muslimin. Rasulullah pun keluar bersama sekitar 12.000 kaum muslimin menghadapi mereka di Hunain. Diawal peperangan pasukan kaum muslimin sempat bercerai berai tetapi kemudian bersatu kembali dan dapat mengalahkan musuh dengan telak (Lihat QS Taubah: 25-26). Kaum muslimin pun mendapat harta rampasan yang sangat banyak, 24 ribu ekor onta, 40 ribu kambing dan lainnya. Sebagian besar musuh lari ke Thoif sehingga Rasulullah pun memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk mengepungnya. Setelah melakukan pengepungan beberapa lama akhirnya Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Mekah. Di kemudian hari nanti banyak penduduk Tha’if yang akhirnya menyatakan masuk Islam

Kembali ke Madinah

Setelah dari pengempungan Tho’if, Rasulullah menunaikan Umrah kembali ke Mekah kemudian balik ke Madinah (akhir Dzulhijjah 8H). Rasulullah kemudian tinggal beberapa waktu di Madinah menerima utusan dari kabilah-kabilah yang berkunjung ke Madinah. Beliau terus berdakwah dan mengajari kaum muslimin tentang Islam. Beliau juga mengutus utusan-utusan untuk mengambil jizyah dari non-muslim, zakat dari kaum muslimin dan lainnya.   Beliau juga mengutus beberapa ekspedisi militer, diantaranya: ekspedisi Uyainah bin Hishan Al Fazariy (Muharram 9H), ekspedisi Qathabah bin Amir (Safar 9H), ekspedisi Dhahak bin Sufyan ke bani Kilab (Rabi’Awal 9H), ekspedisi Alqamah ke sekitar Jedah (Rabi’ Tsani 9H), ekspedisi Ali bin Abithalib ke patung di Tha’i.

Perang Tabuk (Rajab 9H)

Ramawi kembali menyiapkan pasukannya untuk menyerang kaum muslimin setelah tahun sebelumnya terjadi perang mu’tah.  Kekuatan pasukan Ramawi dan sekutunya Ghasan sekitar 40.000 ribu pasukan. Rasulullah pun menyiapkan pasukannya padahal saat itu baru masa paceklik dan perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh. Kaum muslimin dari berbagai kabilah pun berduyun-duyun datang ke Madinah untuk ikut dalam jihad yang besar tersebut. Kaum muslimin pun berlomba-lomba menginfaqkan hartanya untuk persiapan perang. Dikatakan bahwa Utsman menginfaqkan hampir sekitar 700 onta, Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya, Umar menginfaqkan separuh hartanya. Rasulullah pun keluar menuju Tabuk bersama sekitar 30.000 pasukan. Setelah Rasulullah dan pasukan kaum muslimin sampai di Tabuk dan berdiam disana ternyata pasukan musuh tidak berani menghadapi dan memilih kembali ke negerinya. Hal ini semakin menguatkan kembali kedudukan kaum muslimin di jazirah Arab. Setelah berdiam di Tabuk hampir sekitar 20 hari kemudian pasukan kaum muslimin balik dan sampai ke Madinah bulan Ramadhan 9H. Allah menurunkan surat al Bara’ah (At Taubah) berkaitan peperangan ini.

Haji yang dipimpin Abu Bakar Ash Shidiq (Dzulhijjah 9H)

Setelah pembebasan Mekah manusia kemudian berduyun-duyun masuk Islam. Kabilah-kabilah Arab pun menyatakan keislamannya. Jazirah Arab pun diliputi dengan keselamatan dan keamanan. Pada bulan Dzulqa’dah/Dzulhijjah Rasulullah memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin kaum muslimin haji ke baitullah. Rasulullah juga memerintahkan Abu Bakar untuk mengumumkan pada manusia agar tidak ada lagi kaum musyrik yang haji setelah tahun itu dan tidak ada lagi yang thowaf dalam keadaan telanjang.

Haji Wada’ (Dzulhijjah 10 H)

Setelah sempurna dakwah, selesai misi risalah yang beliau bawa, dan selesai membangun asas masyarakat yang baru diatas tauhid (mengesakan ibadah hanya kepada Allah) maka muncul pada hati Rasulullah bahwa ajal beliau semakin dekat. Rasulullah pun memerintahkan untuk diumumkan bahwa beliau akan haji tahun itu (tahun 10 H). Kaum muslimin dari seluruh penjuru jazirah Arab pun berbondong-bondong menuju Mekah untuk haji bersama Rasulullah. Total ada sekitar 124 ribu atau 144 ribu kaum muslimin yang ikut wukuf di Arafah bersama beliau. Beliau menyampaikan khutbah dan wasiat-wasiatnya di Arafah. Kemudian setelah itu turunlah ayat: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al Ma’idah: 3). Setelah menyempurnakan manasiknya kemudian Rasulullah balik ke Madinah.

Rasulullah Wafat (12 Rabi Awal 11H)

Selesai haji wada’ Rasulullah pun kembali dan berdiam di Madinah. Beliau banyak member wasiat pada para sahabatnya. Beliau juga menyempatkan untuk menziarahi syuhada’ Uhud dan kuburan Baqi’. Rasulullah juga sempat mengutus pasukan dalam jumlah besar dibawah Usamah bin Zaid untuk menghadapi pasukan Romawi (bulan Safar 11H). Kemudian di akhir Safar Rasulullah mulai merasakan sakit. Sakit beliau pun semakin parah dan akhirnya setelah 13 atau 14 hari sakit beliau meninggal di hari Senin tanggal 12 Rabi Awal tahun 11 Hijriyah – inna lillahi wainna ilaihi raji’un -. Beliau meninggal di kamar ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha. Kaum muslimin pun dilanda kesedihan yang luar biasa. Banyak diantara mereka, termasuk Umar bin Khatab, belum bisa percaya bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Hingga akhirnya Abu Bakar masuk mendatangi jenazah beliau dan kemudian berkhutbah dihadapan manusia: Amma Ba’du, barangsiapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam- sesungguhnya dia telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah sesungguhnya dia Maha Hidup dan tidak akan mati. Allah berfirman, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran: 144).

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, serta pengikutnya sampai hari kiamat kelak. Amien.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 7/12/1437H

Diposting ulang dari http://www.ukhuwahislamiah.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: