Nasehat

Tinggalkan Perselisihan dan Perpecahan – Syaikh Fauzan –


imagesAllah memerintahkan kita untuk bersatu dan meninggalkan perselisihan. Persatuan adalah rahmat sedang perselisihan adalah adzab. Allah berfirman,

 

وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ* إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

Mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (QS Huud: 118-119)

 

Namun sangat disayangkan akhir-akhir ini banyak sekali jama’ah dan kelompok yang mana masing-masing memiliki manhaj (metode) dan kepemimpinan tersediri sehingga banyak menimbulkan perselisihan di tengah umat.  Ditambah lagi adanya perpecahan diantara penuntut ilmu, masing-masing menisbahkan pada syaikh (atau ustadz) tertentu. Tidak mengambil ilmu kecuali dari syaikh tertentu dan mentahdzir dari masyayikh lainnya. Padahal diantara syaikh tersebut tidak ada perbedaan dalam hal aqidah dan manhaj, melainkan hanya sekedar ta’ashub semata.   Hal ini tentu akan membahayakan ahlussunnah wal jama’ah dan memberi kesempatan ahli bid’ah dan orang-orang munafiq untuk berkembang.

 

Sudah semestinya kaum muslimin dan khususnya penuntut ilmu meninggalkan perselihan dan perpecahan seperti ini. Hendaknya benar-benar menjaga kesatuan kalimat dan persatuan diantara mereka. Wala’ dan bara’ (loyalitas) hendaknya semata-mata atas Al Kitab, As Sunnah dan manhaj ahlussunnah waljama’ah.

Baca selengkapnya nasehat Syaikh Dr Saleh Al Fauzan hafidzahullah di: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14338

Iklan
Nasehat

Pena Bermata Dua


Pena Bermata Dua

Pena Bermata Dua

 Nasehat Bagi Para Penulis

 Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr [1]

Semoga Allah subhanahu wata’ala  memuliakan pena sebagai makhluk pertama ciptaan-  Nya[2], sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam. Dan Allah telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Nun, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qolam :1)

Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengan pena bahwa dakwah agama Islam bersandar kepada seorang Nabi yang ma’shum yang sempurna akal dan kekuatannya. Oleh sebab itu, Allah meneruskan ayat di atas dengan firman-Nya :

مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

“Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (QS. Al-Qolam:2)

Sebab, gila merupakan penyakit yang dapat menghalangi diri dari menjalankan kewajiban agama dan menyampaikan dakwah, juga merupakan salah satu factor penyebab melampau batas.   Continue reading “Pena Bermata Dua”

Adab & Akhlak, Ilmu, Manhaj, Nasehat

Pentingnya Solidaritas Islami dan Menjaga Ukhuwah Islamiah


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Solidaritas Islami

Dalam Hadist yang shahih disebutkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, rahmat dan perasaan di antara mereka adalah bagai satu jasad. Kalau salah satu bagian darinya merintih kesakitan, maka seluruh bagian jasad akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam” [1]. Dalam hadist lainnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya seperti sebuah bangunan, saling menguatkan satu dengan yang lainnya”. Beliau sambil menjalinkan jari-jemari beliau [2].

Dalam hadist yang lainnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya muslim, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya” [3]. Hadist-hadist diatas dan dalil-dalil lainnya dari al Qur’an dan as Sunnah menunjukkan pentingnya solidaritas sesama muslim. Hendaknya setiap muslim senantiasa berusaha memperhatikan dan peduli dengan keadaan muslim yang lainnya dimanapun ia berada. Continue reading “Pentingnya Solidaritas Islami dan Menjaga Ukhuwah Islamiah”

Adab, Adab & Akhlak, Nasehat

Apakah Sama Orang-Orang yang Mengetahui dan Orang-Orang yang Tidak Mengetahui?


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya

Allah berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)
Beruntunglah orang-orang yang mau merenungi ayat-ayatNya dan mau mengambil pelajaran darinya. Sesungguhnya sebaik-baik nasehat adalah Kitabullah, barangsiapa mau mengikuti nasehat didalamnya sungguh ia telah beruntung dan selamat. Lewat tulisan yang ringkas ini kami berusaha mengajak pembaca semua untuk sedikit merenungi dan mengambil faedah dari firman Allah ayat kesembilan dari surat Az Zumar diatas.

Keutamaan ilmu dan Ahli Ilmu
Penulis yakin telah banyak yang mengetahui bahwa ayat diatas adalah salah satu diantara dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu. Dalam ayat yang mulia ini Allah menyuruh Rasulullah untuk bertanya “Apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?”. Ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena sudah pasti beda orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengatahui, orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Jangankan manusia, hewan saja berbeda antara yang berilmu dan yang tidak berilmu. Allah berfirman, “Katakanlah: Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu” (al Maidah: 4). Hasil tangkapan binatang pemburu yang terlatih (berilmu) halal dimakan, tidak demikian tangkapan hewan buas pada umumnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin membawakan dan menjelaskan ayat diatas di awal bab “Keutamaan Ilmu” dalam “Kitabul Ilmi” beliau. Diantaranya beliau berkata, “Tidak sama orang yang berilmu dan tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang hidup dengan yang mati, yang mendengar dengan yang tuli, yang melihat dengan yang buta. Ilmu adalah cahaya yang dengannya manusia mendapat petunjuk, yang denganya manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Dengan ilmu Allah mengangkat/melebihkan siapa yang dikehendakinya dari para makhluqNya. Allah berfirman, Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al Mujadalah: 11)…” [kitabul Ilmi, hal 13]

Sikap seorang yang berilmu Continue reading “Apakah Sama Orang-Orang yang Mengetahui dan Orang-Orang yang Tidak Mengetahui?”

Nasehat

Nasehat Terindah Untuk Saudaraku


 

alam kubur

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata kepada salah seorang pendampingnya, “Wahai Fulan, Aku tadi malam tidak bisa tidur karena merenungkan sesuatu.” Dia berkata, “Apa yang sedang Engkau renungkan, wahai Amirul Mukmmin?” Beliau menjawab, “Aku sedang merenungkan kuburan dan penghuninya. Jika kamu menyaksikan mayat pada hari ketiganya di dalam kubur, niscaya kamu akan mendapatkan suatu bentuk sangat mengerikan walaupun sebelum mati dia sangat menawan hati. Kamu menyaksikan suatu hunian penuh dengan binatang binatang yang menyeramkan, badan yang mulai mengembung dan bernanah yang dibuat santapan cacing tanah, sedang tubuh mulai membusuk, kain kafan mulai hancur, sementara dahulu di dunia penampilannya sangat menawan, aroma tubuhnya sangat semerbak wangi dengan parfum dan pakaiannya sangat bersih dan indah.” Setelah itu beliau tersungkur pingsan.” (Lihat Kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab, Risalah Ahwalul Qubur, hal. 290)

 

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,sampai kamu masuk ke dalam kubur.Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),…” (QS. At-Takaatsur 1-3)

Manhaj, Nasehat

Tinggalkan Perkara yang Sia-Sia


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Seorang muslim tidak sibuk dengan perkara yang sia-sia

Sesungguhnya islam adalah agama yang penuh keindahan, yang memerintahkan manusia untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya baik di dunia maupun akhirat. Sebaliknya islam memperingatkan dari hal-hal yang tidak berguna atau kurang bermanfaat bagi manusia. Untuk itu hendaknya bagi seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi dirinya. Meskipun kadangkala perkara tersebut adalah perkara yang mubah. Karena kadang kala hal tersebut menyibukkan dirinya dari melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata , telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

من حسن إسلام المرء ترك ما لا يعنيه

Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya [1]. Continue reading “Tinggalkan Perkara yang Sia-Sia”

Manhaj, Nasehat

Agama itu Mudah tetapi Jangan Bermudah-mudahan dalam Beragama


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Sedikit melanjutkan tulisan sebelumnya “Agama Islam itu Mudah”. Agama islam adalah agama yang mudah. Namun, tidak dibenarkan bersikap bermudah-mudahan dalam menjalankan syariat.

Jangan Bermudah-mudahan dalam Beragama

Sebagian orang melakukan hal-hal yang menyimpang lalu mengatakan “Islam itukan agama yang mudah”. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.

Dalam sebuah hadistnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى. قيل: يا رسول الله من يأبى؟ قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Lalu Rasulullah ditanya: Siapa orang yang enggan ya Rasulallah? Rasulullah menjawab: Barang siapa mentaatiku akan masuk surge, barangsiapa memaksiatiku maka ia adalah orang yang enggan.[1]
Continue reading “Agama itu Mudah tetapi Jangan Bermudah-mudahan dalam Beragama”