Beranda > Manhaj > Sejarah Hitam Pelecehan Terhadap Wanita Dengan Nama “Emansipasi Wanita”

Sejarah Hitam Pelecehan Terhadap Wanita Dengan Nama “Emansipasi Wanita”


Penulis: Abu Umair Mahful Safaruddin, Lc.

Sejarah pelecehan terhadap wanita muslim berawal dari negeri Kan’an, Mesir, ketika penguasa Mesir pada waktu itu Muhammad Ali Basya mengadakan program pengiriman mahasiswa-mahasiswa muslim ke Prancis. Di antara mereka yang dikirim adalah Rif’at Rafi’ Ath-Thahthawi (w. 1290 M). Dialah yang pertama kali menyebarkan bibit propaganda terhadap emansipasi wanita ini sepulangnya dari Prancis. Lalu mulailah gerakan setan ini diteruskan oleh para pewarisnya di segala penjuru negeri Islam.Di Mesir sendiri -negeri pertama kali yang mempropagandakan gerakan emansipasi wanita ini- banyak orang yang terpengaruh dengan pemikiran Rif’at ini yang kebanyakan mereka adalah para intelektual muslim hasil didikan Barat dan orang Nashrani, diantaranya adalah:

  • Markus Fahmi (w. 1374 M) dalam bukunya Al-Mar’atu fi Asy-Syarqi(Wanita Timur).
  • Ahmad Luthfi As-Sayyid (w. 1382 M), orang pertama kali yang memasukkan wanita-wanita Mesir ikut serta belajar di perguruan-perguruan tinggi campur baur dengan kaum lelaki dengan menanggalkan busana muslimahnya. Dan ini sejarah pertama yang tercatat di Mesir dan mendapat dukungan dari Thaha Husain (w. 1393 M)
  • Qasim Amin (w. 1326 M) orang kedua setelah Rif’at yang menjadi propagandis terkenal dalam gerakan emansipasi wanita. Dia menulis buku yang terkenal Tahriirul Mar’at (Emansipasi Wanita). Yang banyak mendapat kecaman dari para ulama baik di Mesir, Syam dan Iraq dan dihukumi murtad oleh mereka. Akan tetapi tidak lama kemudian dia menulis buku lagi yang berjudul Al-Mar’atu Al-Jadiidatu (Wanita Modern), maksudnya adalah: merubah wanita muslimah menjadi wanita Eropa.
  • Ratu Naziliy Abdurrahman Shabriy, seorang muslimah yang telah murtad dengan pindah ke agama Kristen. Dia merupakan salah satu pendukung tulen gerakan “Emansipasi Wanita” ini (Lihat: Ratu Naziliy: 8/226-227)
  • Sa’d Zaghlul (w. 1346 M) dan saudara sepupunya Ahmad Fathi Zaghlul (w. 1332 M) sebagai pelaksana pemikiran yang dibawa oleh Qasim Amin ini.
  • Huda Sya’rawi (w. 1367 M) pemimpin gerakan wanita di Kairo yang mendakwahkan Emansipasi Wanita pada tahun 1337 M. Dan kongres mereka yang pertama kali dilangsungkan di gereja Al-Marqashiyah di Mesir tahun 1338 M. Huda Asy-Sya’rawi adalah wanita muslimah Mesir pertama kali yang menanggalkan hijab.

Dan masih ada lagi nama-nama lain dari para pengikut hawa nafsu dari Mesir seperti: Ihsan Abdul Quddus, Mushthafa Amin, Najib Mahfudz, Thaha Husain dari kalangan umat Islam, sedangkan dari kalangan Kristen muncul nama seperti: Syibli Syumayyil, Farah Anton dll. Mereka bahu membahu mendakwahkan gerakan iblis ini untuk mengelabui wanita-wanita muslimah dengan menggunakan surat kabar, sarana pertama dan paling utama serta paling untuk efektif untuk menyebarkan gerakan ini. Maka muncullah surat kabar dengan nama “Majalah As-Sufur (Majalah Pornografi)” pada tahun 1318 M, yang isinya tidak lain merusak wanita muslimah melalui hal-hal berikut:

  1. Menampilkan gambar-gambar wanita seksi.
  2. Campur baur antara laki perempuan dalam diskusi dan rapat-rapat.
  3. Pemikiran sesat tentang “Wanita adalah partner laki-laki” maksudnya bahwa wanita itu sama dengan lelaki dalam semua hal.
  4. Menjelek-jelekkan ajaran islam bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita.
  5. Menampilkan mode dan busana ala Barat, model kolam renang bagi wanita.
  6. Menampilkan gambar tempat-tempat hiburan, kafe, bar dll.
  7. Menampilkan kisah-kisah mesum dan porno yang merusak kehormatan wanita.
  8. Menyanjung bintang film, penyanyi, artis dll.

Kemudian gerakan ini secara cepat merambah ke negara-negara islam lainnya sehingga dikeluarkanlah undang-undang tentang pelarangan hijab di berbagai Negara, antara lain:

Di Turki, pada tahun 1456 M Mushthafa Kemal At-Tatruk mengeluarkan undang-undang tentang pelarangan hijab. Kemudian pada tahun 1348 M diberlakukan undang-undang baru buatan Swiss yang bernama UU Konvensional New Castle yang melarang poligami bagi lelaki muslim. Sejak saat itulah wanita muslimah Turki sudah tidak ada bedanya lagi kondisinya dengan wanita Swiss, mereka tidak malu-malu lagi memakai busana Barat yang menampakkan aurat mereka, Wal’iyadzu Billah.

Di Iran, pada tahun 1344 M Ridha Bahlawi penguasa dari kalangan Rafidhah mengeluarkan undang-undang tentang pelarangan hijab bagi wanita Iran.

Di Afghanistan, Muhammad Aman juga mengeluarkan undang-undang yang sama. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ahmad Zogho di Albania.

Dan di Tunis pada tahun 1421 M Abu Ruqaibah mengeluarkan undang-undang tentang larangan hijab dan poligami. Dan barang siapa yang melanggar dikenai sanksi hukuman penjara 1 tahun atau membayar denda sesuai dengan ketetapan. Di samping itu dia juga mengeluarkan beberapa undang-undang lain yang isinya menentang syariat Islam seperti: Undang-undang yang memberikan kebebasan penuh kepada wanita jika telah berusia 20 tahun untuk memilih pasangan hidupnya tanpa persetujuan dari kedua orang tuanya, dan juga undang-undang yang isinya hukuman bagi orang yang menikahi dua orang wanita secara halal dan membebaskan bagi mereka yang menikahi 10 orang wanita secara haram. Majalah Al-’Arabiy pernah memuat sebuah temuan adanya gambar pamflet yang terpampang di jalanan Tunisia, di mana di setiap lapangan ada dua buah papan, yang satu menggambarkan sebuah keluarga yang memakai busana islami dengan tanda (x) dan yang satu menggambarkan sebuah keluarga yang memakai pakaian ala barat dengan tanda (v) di bawahnya tertulis sebuah komentar “Jadilah kalian seperti mereka”.

Selain Abu Ruqaibah yang mendakwahkan gerakan setan ini di Tunisia ada juga Ath-Thahir Al-Haddad (1317-1353 M) menulis kitab “Imroatuna fi Asy-Syari’ah wal Mujtama’ (Wanita Kita dalam pandangan Syari’at dan Masyarakat)” yang selama dekade tahun 1338-1348 M mendakwahkan kepada gerakan “Emansipasi Wanita” sehingga dua orang mufti dari madzhab Maliki menghukuminya murtad keluar dari agama. Selanjutnya dia diasingkan sebab tulisannya itu sampai akhir hidupnya tahun 1353 M. Dia meninggal dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan tidak ada seorangpun yang mengantarkan jenazahnya selain keluarga dan beberapa temannya saja. Dia termasuk orang yang gemar musik, suka pergi ke kafe dan bar serta menganut paham sosialis.

Di Irak gerakan “Emansipasi Wanita” diusung oleh Az-Zahawiy dan Ar-Rashafiy sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Peristiwa-peristiwa politik dari sejarah Irak yang baru” halaman 91-143.

Di Aljazair kondisinya lebih parah lagi sebagaimana dalam kitab At-Targhib fi Al-Fikri wa As-Siyasah wa Al-Iqtishad (Westernisasi dalam bidang Pemikiran, Politik dan Ekonomi) halaman 133-139 disebutkan sebuah kisah yang memilukan, yaitu: pada tanggal 13 Mei 1958 M pemerintah memerintahkan seorang khatib Jum’at untuk menyampaikan materi tentang larangan hijab dalam khutbahnya. Maka khatib inipun melaksanakannya, dan setelah selesai shalat, salah seorang wanita Aljazair berdiri memegang mikrofon mengajak teman-temannya untuk melepas hijab, lalu dia melepas hijabnya dan diikuti oleh wanita yang lainnya. Dan kejadian serupa juga terjadi di beberapa kota di Aljazair bahkan di ibu kota Aljazair sendiri. Peristiwa inipun didukung oleh pers dengan meliputnya secara besar-besaran, Nas’alulloha Al-’Afwa Wal ‘Afiyah.

Di Maroko dan Syam dengan keempat Negara yang masuk di dalamnya: Libanon, Suria, Yordania dan Palestina gerakan “Emansipasi Wanita” juga berkembang pesat. Buku pertama kali yang muncul di Syam berkenaan dengan masalah ini ditulis tahun 1347 M -10 tahun setelah meninggalnya Qasim Amin- oleh Nadzirah Zainuddin dengan judul As-Sufur dan Al-Hijab yang diberi kata pengantar oleh ‘Ali ‘Abdurrazaq penulis buku “Islam wa Ushulul Hukm” buku rujukan utama bagi kaum sekuler yang di Mesir sendiri mendapat tantangan keras dari para ulama.

Di India dan Pakistan, gerakan “Emansipasi Wanita” dengan kedua sayapnya “Kebebasan & Persamaan (Gender)” mulai muncul pada tahun 1370 M dengan diterjemahkannya kitab Qasim Amin “Tahrirul Mar’at” ke dalam bahasa Urdu. Lalu diikuti dengan berbagai tulisan di media cetak. Ini semua tercantum secara lengkap dalam buku “Pengaruh Pemikiran Barat Terhadap Kerusakan Masyarakat Muslim di Semenanjung India” karangan Khadim Husain hal. 182-195.

Ini sejarah singkat tentang gerakan iblis dengan nama “Emansipasi Wanita” yang telah banyak memakan korbannya dari kalangan wanita muslimah di berbagai belahan dunia Islam.

Kisah yang Memilukan

a. Kisah Pertama: ketika Sa’ad Zaghlul pulang dari Inggris -dengan membawa pemikiran sesatnya untuk merusak Islam dari dalam- untuk menyambut kedatangannya di bandara dibuatlah dua panggung, satu khusus untuk laki-laki dan yang lain untuk wanita dengan memakai hijab. Begitu Sa’ad Zaghlul turun dari pesawat, dia langsung menuju panggung khusus wanita dan disambut langsung oleh Huda Sya’rawi yang pada waktu itu memakai hijab agar dilepas oleh Sa’ad. Lalu Sa’ad pun melepaskan hijab dari Huda yang diikuti serentak oleh wanita-wanita yang hadir pada saat itu dengan bersorak-sorai.

b. Kisah Kedua: Shafiyah bintu Mushthafa Fahmi, isteri Sa’ad Zaghlul yang setelah menikah dengannya dia mengganti namanya menjadi Shafiyah Hanim Sa’ad Zaghlul, dengan menisbahkan dirinya sebagai istri ke nama suaminya sebagaimana kebiasaan wanita-wanita barat setelah mereka menikah. Pada sebuah demonstrasi wanita yang berlangsung di depan istana Nil, dia melepas hijab yang diikuti secara serentak oleh para wanita yang lain. Kemudian mereka menginjak-injaknya dan membakarnya bersama-sama. Oleh karena itu lapangan tempat terjadinya peristiwa tersebut dengan nama “Maidan At-Tahrir “ (Lapangan Kebebasan).

Apa Isi Dan Akibat Buruk Dari Gerakan Iblis “Emansipasi Wanita” Ini ?

Gerakan “Emansipasi Wanita (Tahrirul Mar’ah)” ini terdiri dari dua pokok masalah:

1. Kebebasan Wanita (Hurriyatul Mar’ah)

  • Mengajak wanita untuk melepas hijab, lambang kehormatan mereka dan menghilangkan rasa malu dari diri mereka. Sehingga banyak negara islam yang mengeluarkan undang-undang larangan hijab bagi kaum muslimah, memberikan sanksi kepada mereka yang memakai hijab dengan hukuman satu tahun penjara atau denda atau mengintimidasi mereka yang berhijab, seperti yang terjadi di Turki, Tunisia, Iran, Afghanistan, Albania, Somalia dan Aljazair.
  • Menawarkan mode dan berpakaian ala barat dengan bantuan mass media baik cetak maupun elektronik. Sehingga banyak kita jumpai wanita-wanita muslimah yang memiliki kesibukan dan hobby baru yaitu membaca dan mengikuti perkembangan mode dan busana ala barat.

2. Persamaan antara Wanita dan Pria (Gender/Al-Musaawatu Bainal Mar’ati Wa Ar-Rajul)

  • Mengajak wanita untuk keluar rumah untuk bersama-sama kaum lelaki bekerja di segala bidang kehidupan.
  • Gerakan ini membawa beberapa pemikiran yang kesemuanya merusak wanita muslimah dan mencabik-cabik kehormatannya. Banyak sekali dampak negatif dari gerakan ini, diantaranya:
    • Merebaknya gambar-gambar porno dan tayangan-tayangan yang tidak senonoh dan melanggar norma-norma masyarakat dan agama.
    • Menyebarnya perzinaan dan praktek-praktek prostitusi di masyarakat dan tidak jarang diantaranya yang dilegalkan. Dan lebih parahnya lagi munculnya kaum homo dan lesbian yang dahulu sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat islam.
    • Tuntutan kuat untuk membatalkan hukum islam dalam masalah hudud terutama yang berkenaan dengan masalah zina.
    • Munculnya praktek-praktek medis yang melanggar syar’i sebagai dampak dari perzinaan seperti: aborsi, munculnya alat-alat baru untuk mencegah kehamilan, anjuran untuk KB, adanya bayi tabung, sewa rahim perempuan lain dll.
    • Munculnya undang-undang yang bertentangan dengan syariat Islam seperti: larangan poligami, perempuan juga memiliki hak untuk menceraikan suaminya, perempuan yang sudah dewasa usia 20 tahun bebas memilih pasangan hidupnya sendiri meskipun tanpa izin orang tua atau walinya, perempuan memiliki hak waris yang sama dengan laki-laki dll.
    • Timbulnya berbagai macam penyakit masyarakat seperti: banyaknya anak-anak terlantar akibat perzinaan, menyebarnya kenakalan remaja akibat salah urus karena orang tua mereka sibuk dengan karier dan pekerjaan, munculnya penyakit-penyakit kelamin yang sampai sekarang susah dicarikan obatnya, munculnya perselingkuhan di kalangan keluarga, naiknya angka perceraian, meningkatnya jumlah perawan-perawan tua karena perzinaan dll.
    • Hilangnya rasa malu dari diri wanita muslimah dan tumbuhnya rasa kurang PD dengan busana islami yang dianjurkan agama Islam.

Beberapa Nasihat Penting

1. Kepada pemerintah untuk:

  • Membuat undang-undang tentang: larangan membuka aurat dan melepas hijab bagi wanita.
  • Membuat undang-undang tentang pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam semua bidang kehidupan.
  • Membuat undang-undang pers tentang larangan menulis hal-hal yang merusak kehormatan wanita.
  • Menghukum atas segala pelanggaran undang-undang yang ditetapkan dan menyeret pelakunya ke pengadilan.

2. Kepada para ulama, da’i dan thullabul ‘ilmi untuk tidak bosan-bosan

  • Memberikan nasihat dan peringatan kepada para wanita untuk menjaga kehormatan mereka.
  • Menegakkan amar makruf nahi mungkar di kalangan masyarakat.
  • Memberikan semangat untuk selalu beriltizam dengan ajaran-ajaran islam dan giat untuk menuntut ilmu syar’i.

3. Kepada para orang tua dan suami hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dalam amanah yang diberikan Allah kepada mereka berupa anak-anak perempuan atau istri-istri mereka. Hendaknya mereka mendidik para wanita yang berada di bawah tanggung jawabnya agar menjaga kehormatan mereka dan membentengi mereka dari segala hal yang bisa merusak mereka seperti; teman yang jelek, media pers dll. Dan hendaknya mereka paham bahwa kerusakan yang melanda para wanita sebab yang paling utama adalah keteledoran kaum laki-laki dalam mendidik dan membimbing mereka.

4. Kepada para wanita muslimah bertakwalah kalian kepada Allah, jagalah kehormatan kalian. Janganlah kalian rela menjadi barang mainan oleh tangan-tangan orang yang ingin menghancurkan agama ini dan umatnya lewat kalian. Pakailah pakaian yang syar’, hindari segala hal yang akan merusak diri kalian. Janganlah kalian menjadi kaki tangan setan dalam menggoda umat manusia ini.

5. Kepada para pembawa bendera “Emansipasi Wanita” baik para pemikir, penulis atau yang lainnya untuk segera bertaubat dengan taubat nashuha. Dan bertakwalah kalian kepada Allah jangan sampai kalian menjadi pintu-pintu bagi manusia untuk melakukan perbuatan keji. Dan ingatlah kalian akan siksaan dan ancaman Allah kelak di akhirat.

6. Kepada setiap kaum muslimin untuk menjaga diri mereka masing-masing dari perbuatan keji dan mungkar dan menjaga lisan mereka jangan sampai menyebarkan perbuatan yang keji dan rida dengan hal itu. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19)

Kalimat Terakhir

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya “Al-Hikam Al-Jadirah bil Idza’ah” hal. 43 menyebutkan sebuah riwayat: “Diriwayatkan dari al-imam Ahmad bahwasanya beliau pernah ditanya: “Bahwasanya Abdul Wahhab Al-Warraq mengingkari masalah ini dan itu.” Beliau menjawab: “Kita akan tetap dalam kebaikan selama ada di antara kita yang mengingkari kemungkaran yang ada.”

Senada dengan apa yang disampaikan beliau adalah apa yang diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya ada orang yang berkata kepada beliau: “Bertakwalah anda wahai amirul mukminin!” Lalu beliau menjawab: “Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mau mengatakan hal ini kepada kami. Dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mau menerima ucapan itu dari kalian.”

والله أعلم بالصواب

وصلى الله على محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

********

Kategori:Manhaj
  1. ummu fathimah
    Mei 30, 2008 pukul 8:29 am

    assalamu’alaikum……..

    apakah seorang wanita yang bekerja diluar rumah jg bisa dikatakan pengikut “emansipasi wanita’

    karena saat ini banyak kita lihat wanita bekerja di lur rumah

    ummu fathimah
    ummu_mlg@yahoo.com | 125.164.121.154
    assalamu’alaikum……..
    apakah seorang wanita yang bekerja diluar rumah jg bisa dikatakan pengikut “emansipasi wanita’
    karena saat ini banyak kita lihat wanita bekerja di luar rumah

    Maramis: yang pertama perlu kita perhatikan adalah bahwa propaganda emansipasi wanita yang salah satunya mengajak kaum wanita untuk terjun ke sektor-sektor kerja yang biasa dihuni oleh kaum lelaki tentu akan berujung kepada fenomena ikhtilat, tidak terjaganya pandangan dari aurat, membuka pintu-pintu syahwat dari bisikan-bisikan syaithon dan ini akan menimbulkan bahaya yang besar. Padahal banyak dalil yang shahih dan tegas yang menunjukkan diharamkannya seorang laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan mahrom, atau diharamkannya memandang aurat lawan jenis, dan diharamkanya berbagai sarana yang menggiring dan menjerumuskan kepada hal-hal yang haram.
    Dan pada realitanya ada juga beberapa wanita yang bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya yang mungkin sudah ditinggal meninggal suaminya, atau seorang ukhti yang harus menghidupi adik-adiknya karena orang tuanya sudah tidak bisa bekerja lagi karena usia yang lanjut. Mereka bekerja tanpa tahu menahu atau menyoal masalah ’emansipasi’, hanya saja mereka termakan oleh keadaan yang menyudutkan mereka sehingga harus bekerja. Mereka yang bekerja itu tidak berkoar-koar membela ’emansipasi’ yang istilah ini menjadi tren memang bagi wanita-wanita karir atau ’guru-guru’-nya yang mereka sendiri tidak menyadari bahwa suatu saat akan hancur rumah tangganya, anak-anaknya terlepas dari awasannya dan mulai mempersiapkan kedurhakaannya kepada kedua orang tuanya, perzinaan ada di depan mata mereka, wa na’udzubillahi min dzalik. Maka dalam masalah ini kurang tepat jika kita katakan mereka adalah pengikut ’emansipasi’ secara mutlak.

    Sehingga dalam masalah ini ’gampang’ nya bahwa hukum asal bekerjanya seorang wanita di luar adalah haram disebabkan dengan kemungkaran dan kemaksiatan yang bisa terjadi didalam tempat kerjanya, berdasarkan dalil-dalil yang ada dan menimbulkan potensi yang besar bagi kerusakan rumah tangganya. Namun jika sudah ’mentok’ harus bekerja diluar disebabkan mungkin kasus-kasus sederhana seperti diatas tadi, maka kaidahnya adalah ”Darurot itu membolehkan yang haram, dan darurot itu seduai dengan kadarnya”. Ini adalah kaidah fiqih, dengan berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang membolehkan memakan makanan yang telah diharamkan-Nya:

    ”….Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqoroh 173)

    Artinya, jika sudah saatnya untuk berhenti bekerja karena sang suami sudah berpenghasilan yang lebih sehingga tidak usah bekerja pun bisa mengihupi anak istri, maka berhentilah. Karena pada asalnya hukumnya harom.

    Namun yang baik adalah bekerja tetapi tanpa keluar rumah, artinya jika memang seorang wanita dituntut untuk bekerja maka pilihlah sektor kerja yang paling aman. Aman dari fitnah syubhat dan fitnah syahwat (bahkan ini juga berlaku bagi laki-laki). Dan yakinlah bahwa Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba-hambanya yang bertaqwa. Seperti firman-Nya:
    ”….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 2-3)
    Wallahua’lam

  2. ummu fathimah
    Juni 20, 2008 pukul 4:01 am

    assalamu’alaikum………..
    afwan, tolong lebih diperinci lagi sektor-sektor apa yang diperbolehkan bagi wanita untuk masuk didalamnya….

    ana ingin berbagi pengalaman,,,
    ana seorang wanita yag bekerja di rumah sakit bagian kebidanan yang mengahruskan ana untuk memakai seragam (celana) di sana,,,,, sebenarnya ana ingin keluar dari sana, tapi ana berfikir jk ana keluar maka nanti siapa yang akan membantu para akhwat??????????

    abu ja’far:

    untuk perincianbisa di baca di kitab2 karena kamijuga blum mampu, ‘afwan. Jazakillah atas pengalamannya semoga di beri kebaikan oleh Allah

  3. nina
    Oktober 10, 2008 pukul 5:30 am

    please deh, emang km kira tubuh perempuan tuh sarang syahwat apa???? para pria bisa memiliki tubuhnya sendiri, utuh sebagai manusia….dan perempuan yg juga manusia, punya hak atas tubuhnya sendiri, mau pake jilbab kek, pake kaos oblong ma celana jenas, pake kebaya kek itu hak mereka….klo cowok liat cewek pake kebaya /kaos oblong terus terangsang ya itu masalah ada dalam pengontrolan hawa nafsunya dong….kayak mata cowok itu isisnya phalus semua aja jadi gampangan terangsang…..

    lagian klo gitu anda seolah2 menginginkan universalisme perempuan, padahal perempuan di seluruh dunia ini memliki latar belakang historis yang gak sama. bagi wanita kulit putih eropa, bekerja di luar rumah adalah salah satu bentuk kebebasan yg mereka inginkan, tapi bagi budak2 wanita yg berkulit hitam, diam dan bersantai dirumah adalah sebuah kemewahan….

    cewek pake jilbab itu bagus, cantik tapi bukan berarti yg gak pake itu nista dong….

    Admin say’s…
    Mbak Nina yang dirahmati Allah, assalamu’alaikum.
    Tubuh perempuan yang tidak ditutup dengan baik tentu saja menjadi sarang syahwat bagi laki – laki. Bagaimana bisa…??? Karena Rabb mbak Nina dan Rabb kita semua yaitu Allah ta’ala telah mengatakan demikian dalam firman-Nya…

    “dijadikan indah pada pandangan manusia dari kalangan wanita,…” (QS. Ali Imran : 14)

    Memang memakai kaos oblong serta kebaya adalah hak wanita untuk berpakaian. Akan tetapi mereka melupakan hak Rabb-nya yang harus mereka penuhi. Hak Allah tersebut adalah “ditaati perintah-Nya” yang telah termaktub dalam kitab-Nya yang mulia alquran. Dan perintah-Nya dalam alquran untuk para wanita beriman termasuk Mbak Nina adalah menutupi diri dengan jilbab yang mulia.

    “Wahai nabi, katakan kepada istri – istri kalian, anak – anak wanita kalian serta kepada wanita – wanita yang beriman hendaknya mereka menutup tubuh mereka dengan jilbab yang teruntai menutup dada…”
    (QS. Al Ahzab : 59)

    Nah, jadi bukan kita yang menginginkan universalisme bagi wanita…akan tetapi Rabbuna Allah ‘azza wa jalla…Sang Pencipta manusia, sang pencipta mbak Nina…

    Semoga Allah lunakkan hati kita untuk memahaminya mbak Nina…Barakallahu Fiyki…

  4. edi
    Oktober 12, 2008 pukul 7:40 pm

    Wa fiikum barokallloh, wahai saudariku kaum muslimah ….
    saya adalah bapak dari 3 orang anak di usia ke 27 ini, alhamdulillah. Kami menikah di usia muda karena melihat fitnah di jaman ini… karena itu kami berharap para calon ibu dapat kembali meniti jalan yang menghantarkannya kepada kebahagiaan yang sejati, yaitu dengan mentaati perintah Alloh. Walaupun berat terasa namun sesungguhnya dibalik itu semua engkau akan mendapatkan manisnya hidup yang sesungguhnya.
    Namun bila engkau memilih jalan keindahan semu duniawi, saya kuatir engkau tidak akan menemukan kebahagiaan di akhir nanti.

  5. Maret 2, 2009 pukul 8:25 am

    masya allah….artikel yg sangat bagus sekali..
    mohon izin nya untuk ana menyalin nya untuk ana terbitkan di forum / situs lain nya..

    jazakalllahu khoiron kasyiron…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: