Fiqih, Fiqih

Rukun, Wajib dan Sunnah-Sunnah Shalat


(Bagian kedua dari tiga tulisan)

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Setelah membahas tentang definisi, hukum dan syarat-syarat shalat pada tulisan sebelumnya, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas masalah rukun, wajib, dan sunnah-sunnah dalam shalat. Tulisan ini kami sarikan dari kitab Mulakhos Fiqhiyah karangan guru kami, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hafidzahullah ta’ala.

Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat adalah ibadah yang terkandung didalamnya berbagai macam bacaan/ucapan maupun perbuatan. Ucapan maupun perbuatan dalam shalat dapat digolongkan menjadi tiga: rukun, wajib, dan sunnah.

Rukun: Jika ditinggalkan maka batal shalatnya baik secara sengaja maupun tidak, atau batal rekaat yang terlewat rukun tersebut sehingga rekaat yang berikutnya menempati kedudukan rekaat tersebut – akan dijelaskan berikutnya- [1].

Wajib: Jika menginggalkannya secara sengaja maka batal shalatnya. Jika tidak sengaja maka tidak batal, namun harus menggantinya dengan sujud sahwi.

Sunnah: Tidak batal shalat jika ditinggalkan baik secara sengaja maupun tidak. Namun, mengurangi kesempurnaan shalat.

Rasulullah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat” [2]. Yaitu shalat secara sempurna baik rukun, wajib maupun sunnah-sunnahnya.
Continue reading “Rukun, Wajib dan Sunnah-Sunnah Shalat”

Iklan
Fiqih, Fiqih

Tatacara Tayamum


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya

Setelah membahas tentang wudhu dan mandi wajib, pada kesempatan ini kita akan membahas tentang tatacara tayamum. Tulisan ini kami sarikan dari kitab Mulakhos Fiqhiyah karangan guru kami, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hafidzahullah ta’ala .

Kadang kala seseorang terhalang menggunakan air untuk bersuci, maka baginya ada keringanan yaitu bertayamum. Ini termasuk bukti sempurna dan mudahnya agama islam. Seseorang diperbolehkan bertayamum jika tidak mendapatkan air atau terhalang menggunakan air karena suatu sebab. Allah berfirman,

وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih). sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.. (al Ma’idah: 6)
Continue reading “Tatacara Tayamum”

Fiqih, Fiqih

Tatacara Mandi Wajib


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya

Setelah membahas tentang wudhu, pada kesempatan ini kita akan membahas tentang tatacara mandi. Tulisan ini kami sarikan dari kitab Mulakhos Fiqhiyah karangan guru kami, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hafidzahullah ta’ala . Mandi disini maksudnya adalah mandi untuk mengangkat hadas besar, sebagaiman wudhu untuk mengangkat hadas kecil. Hukum dari mandi (karena hadas besar) ini adalah wajib, sebagaimana firman Allah,

وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

Dan jika kamu junub maka bersucilah (mandilah) (al Maidah: 6)

Sebab Mandi Wajib

Sebelum membahas tatacara mandi, berikut adalah hal-hal yang menyembabkan seseorang wajib mandi.

Pertama, keluar mani, baik laki-laki maupun perempuan. Continue reading “Tatacara Mandi Wajib”

Fiqih, Keluarga

Lafadz Nikah


Lafadz Nikah???

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Apa dalam menikah harus ada suatu lafadz tertentu yang harus diucapkan? Jazakumullah khairan.

Jawaban Ustadz:

Jumhur ulama berpendapat bahwa semua lafazh yang menunjukkan arti “menikahkan” boleh digunakan oleh seorang wali ketika menikahkan perempuan yang menjadi perwaliannya dan pernikahan tersebut sah hukumnya, berdasarkan hadits shahih riwayat Al Bukhari (9/256-257 – Fathul Baari, cet. Daarus salaam) dan Muslim (2/1040) dari Sahl bin Sa’d As Saa’id rodhiallohu ‘anhu tentang kisah wanita yang menghibahkan (menyerahkan) dirinya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dinikahi, kemudian salah seorang sahabat meminta kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikahkannya dengan wanita tersebut, dan Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam pun menikahkannya dengan mahar mengajarkan Al Quran kepada wanita tersebut. Continue reading “Lafadz Nikah”

Fiqih, Keluarga, Nasehat

Menunda Menikah demi Kuliah


nikah vs kuliah

Pertanyaan :

Apa hukum menunda pernikahan dengan alasan kuliah, padahal dia sudah siap nikah –InsyaAllah- ?

————————————

Jawaban :

Pertanyaan semisal pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulullah , dan inilah jawabanya, beliau rahimahulullah mengatakan :

“Menunda pernikahan sebab menyelesaikan studi hukumnya adalah menyelisihi pernitah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda : Continue reading “Menunda Menikah demi Kuliah”

Fiqih, Keluarga

Hukum Mengusap Rambut Yang Disanggul (Atau Dikepang)


Menggunakan Sanggul / Kepang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukumnya mengusap rambut yang disanggul (atau dikepang) pada seorang wanita saat berwudhu ?

Jawaban.
Dibolehkan bagi seorang wanita untuk mengusap rambutnya yang disanggul (atau dikepang) atau terurai, akan tetapi ia tidak boleh mengepang atau menyanggul rambut di bagian atas kepalanya, karena saya khawatir wanita itu akan masuk dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi.

“Artinya : Dan para wanita yang berpakaian tapi (seperti) telanjang, kepala mereka bagaikan ponuk unta yang berlenggak-lenggok, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, walaupun aromanya itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian”.

Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 8-9 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin.
Fiqih, Keluarga

Membasuh Kepala Bagi Wanita


Membasuh Kepala Bagi Wanita

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah disunnahkan bagi wanita ketika mengusap kepala dalam berwudhu untuk memulai dari bagian depan kepala hingga bagian belakang, kemudian kembali lagi ke bagian depan kepala sebagaimana yang dilakukan laki-laki dalam berwudhu ?

Jawaban.
Ya, karena pada dasarnya segala sesuatu yang ditetapkan bagi kaum pria dalam hukum-hukum syari’at adalah ditetapkan pula bagi kaum wanita, dan begitu juga sebaliknya, suatu ketetapan yang ditetapkan bagi kaum wanita ditetapkan pula bagi kaum pria kecuali dengan dalil, dalam hal ini saya tidak mengetahui adanya dalil yang memberi kekhususan pada wanita maka dari itu hendaknya kaum wanita mengusap dari bagian depan kepala hingga bagian belakangnya walaupun berambut panjang, karena hal itu tidak memiliki pengaruh, sebab arti dari ketetapan Allah dalam hal ini bukan berarti harus meremas rambut dengan kuat hingga basah melainkan cukup mengusapnya dengan tenang.
[Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin 4/151]