Beranda > Ilmu > Rihlah Para Ulama’ dalam Menuntut Ilmu

Rihlah Para Ulama’ dalam Menuntut Ilmu


rihlah ilmuTelah menjadi kebiasaan para ulama melakukan rihlah(perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu. Mereka bersabar hidup jauh dari sanak kerabat dan orang2 yg dicintai demi mendapatkan warisan para Nabi(yaitu ilmu). Mereka memahami benar bahwa ilmu itu perlu dicari dan didatangi, dia tidak datang dengan sendirinya. Hal ini sebagaimana dikatakan,

العلم يؤتى ولا يأتي

“Ilmu itu didatangi, dan tidak datang (dengan sendirinya)”

Sebelumnya tentu kita ingat kisah Nabi Musa mengikuti Khidir alaihimassalam. Dengan susah payah Nabi Musa berusaha mencari Khidir lalu mengikutinya untuk mendapatkan ilmu yang ia belum miliki atau ketahui (lihat kisah selengkapnya di dalam surat al Kahfi ayat 60-82). Begitu juga dengan kisah para sahabat yang datang dari segala penjuru untuk menemui dan belajar dari Rasulullah. Mereka bertanya tentang urusan agama mereka. Setelah mereka memiliki ilmu yang cukup maka Rasulullah mengutus mereka kembali untuk mengajari kaum mereka.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadakan perjalanan selama satu bulan menuju Syam hanya untuk mendapatkan satu hadits. Beliau di Syam menemui Abdullah bin Unais untuk mendengar sebuah hadits dari Rasulullah sholallahu alahi wasallam. Para tabi’in dan ulama’-ulama’ setelah mereka juga demikian. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang agung maka tidak mengherankan untuk mendapatkannya perlu perjuangan.

Imam Abu Hatim Ar Razi rahimahullah pernah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km! Jadi imam ini pernah berjalan kaki lebih dari 5000 km untuk menuntut ilmu!!! Belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan. Beberapa tempat yang beliau kunjungi untuk menuntut ilmu: Baghdad, Kufah, Makah, Madinah, Syam, Mesir dan lainnya. Lain lagi ceritanya dengan Imam Baqiy bin Makhlad Al Andalusi rahimahullah. Beliau melakukan perjalanan dari Andalus lalu ke Afrika lalu ke Baghdad hanya untuk belajar pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Imam Ahmad bin Hambal sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam menuntut ilmu sehingga ia menjadi imam besar dalam Islam. Ibnu Jauzi mengatakan, “Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia mengumpulkan kitab al Musnad”.

Semoga kita diberi kekuatan untuk mengikuti jejak mereka…amien

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1 Dzulqa’dah 1434 (7 September 2013)

Artikel: www.thaybah.or.id

Kategori:Ilmu Tag:, , ,
  1. September 7, 2013 pukul 8:26 am

    Reblogged this on As-Sunnah Sukoharjo.

  2. deviana agust putranti
    September 9, 2013 pukul 6:15 am

    Aslm wwbrt. Pak saya ingin bertanya seputar kehidupan dalam berumah tangga. Menurut saya dunia saat ini tidak sama seperti yang saya baca dalam alquran maupun alhadist. Kebanyakan laki-laki tidak menjalankan fungsinya sebagai Suami dan ayah serta tauladan bagi istri dan anak2nya. Sementara kebanyakan perempuan bertambah bodoh dan kufur terhadap suaminya. Terlepas mereka hanya merespon apa yang dilakukan suami mereka atau mereka yang masih single memang tidak mau mencari ilmu agama seperti yang seharusnya. Bagaimana kami yang masih berniat untuk menjadi wanita baik-baik harus menyikapi ini pak? Rasanya mustahil bisa bertahan dengan cobaan dan godaan yang mungkin akan kami hadapi. Wasalamualaikum wwbrt. Terimakasih Pak.

  3. deviana agustputranti
    September 9, 2013 pukul 7:34 am

    Subhanallah….. begitu besarnya keinginan para pendahulu kita untuk bisa mendapatkan ilmu. Sedang saat ini dengan sarana dan prasarana yang ada hanya segelintir orang yang mau mendapatkannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang menyenangi mencari ilmu dan Semoga Allah Swt memberkatinya. Amin ya robbal alamin..

  4. September 20, 2013 pukul 3:40 pm

    Wa’alaikumsalam.

    Al Qur’an yang Allah turunkan dan hadits yang RasulNya sampaikan adalah petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini. Tak terkecuali permasalahan rumah tangga. Hendaknya kita berusaha untuk mempelajari al Qur’an dan Sunnah dan mengamalkan sesuai kemampuan kita.

    Terkait dengan masalah keluarga, seorang wanita yang baik hendaknya selalu bersikap yang baik sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Hendaknya ia banyak berdo’a agar Allah memberi kebaikan bagi keluarga/suaminya. Jika Allah memberinya ujian hendaknya bersabar. Ingatlah kisah Asiyah istri Fir’aun. Bagaimana ia tetap sabar dan tegar diatas keimanannya meskipun kondisi suaminya seperti itu (lihat QS At-Tahrim:11 ). Adakah suami yang lbh buruk dari Fir’aun?

  5. September 22, 2013 pukul 12:14 am

    Mari tetap giat menuntut ilmu.

  6. Mohd Riduan Khairi
    Maret 23, 2014 pukul 7:19 pm

    Reblogged this on Abu Abdillah Riduan Khairi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: