Beranda > Fiqih > Hukum Seputar Menghilangkan Najis

Hukum Seputar Menghilangkan Najis


wudhuSyaikh Dr Saleh Al Fauzan hafidzahullah

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah dan pengikutnya.

Sebagaimana seorang muslim dituntut untuk mengangkat hadas  jika ingin sholat  (baik dengan wudhu, mandi atau tayamum) maka dia juga dituntut untuk membersihkan badan, pakaian dan tempatnya dari najis. Allah berfirman,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Dan pakaiannmu maka bersihkanlah (QS Al Mudatsir: 4)

Pada asalnya yang digunakan untuk membersihkan najis adalah air. Air adalah bahan yang digunakan untuk thaharoh secara umum sebagaimana disifati oleh Allah, Allah berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّن السَّمَاء مَاء لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu. (QS Al Anfal: 11)

Najis dan Cara Menghilangkannya:

Jika najis tersebut berada dipermukaan bumi atau yang bersambung dengannya seperti tembok dan semisalnya maka untuk membersihkannya cukup disiram sekali hingga hilang zat najisnya. Sebagaimana perintah Rasulullah utuk menyiram bekas kecing Arab Badui di masjid [1]. Jika telah tempat yang terkena najis tersebut terguyur air hujan atau terkena aliran air maka sudah cukup (mensucikannya dari najis).

Jika najisnya selain di permukaan bumi dan apa-apa yang bersambung dengannya maka jika najisnya berasal dari anjing, babi dan keturunannya maka harus dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.  Berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika anjing menjilat bejana salah seorang dari kalian maka hendaknya ia mencucinya, yang pertamanya dengan tanah” [2]. Hukum ini umum baik untuk bejana, pakaian,  dan lainnya. Jika najisnya selain anjing dan babi seperti air kencing, tinja, darah dan semisalnya maka dicuci dengan disikat dan diperas hingga hilang zat najis dan warnanya. Ada tiga macam mencuci:

  1. Sesuatu yang memungkinkan diperas seperti pakaian maka harus diperas.
  2. Sesuatu yang tidak mungkin diperas tetapi memungkinkan untuk dibalik (digulung) seperti kulit maka dibalik.
  3. Sesuatu yang tidak mungkin untuk diperas maupun dibalik maka hendaknya ditindih dengan sesuatu yang berat agar hilang sebagian besar air  padanya (yang digunakan untuk mencuci).

Jika posisi najisnya tidak diketahui dengan pasti baik pada badan, pakaian atau tempat yang kecil (seperti mushola kecil) maka dicuci tempat yang diperkirakan ada najisnya sampai yakin hilang. Jika sama sekali tidak tahu posisi najisnya maka dicuci seluruhnya.

Untuk kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan (selain asi) maka cukup diperciki air. Berdasar hadits Ummu Qois, Bahwasanya dia datang kepada Rasulullah dengan membawa anak laki-lakinya yang belum makan makanan. Rasulullah lalu mendudukkannya dipangkuannya, lalu ia kecing di pakaian beliau, lalu beliau minta air dan memercikinnya dan tidak mencucinya. [3]. Jika ia telah makan makanan, maka air kecingnya seperti air kecing orang dewasa. Begitu juga air kecing anak perempuan seperti air kencing orang dewasa.

Maka ringkasnya najis ada tiga macam:

  1. Najis berat /mughaladzoh yaitu najis anjing dan semisalnya
  2. Najis ringan/mukhofafah yaitu air kencing anak laki-laki yang belum makan makanan
  3. Najis yang diantara keduanya yaitu najis-janis yang lainnya

Bagaimana dengan air kencing dan kotoran hewan?

Setiap hewan yang boleh dimakan dagingnya maka air kecing dan kotorannya suci (tidak najis) seperti onta, sapi, kambing dan semisalnya. Hal ini berdasar hadits bahwa Rasulullah memerintahkan orang-orang Uraniyin untuk minum air kecing dan susu onta untuk berobat [4]. Hal ini menunjukkan sucinya air kencing onta karena barang najis tidak boleh digunakan untuk berobat dan diminum. Jika ada yang mengatakan hal tersebut karena darurat maka kita jawab bahwa Rasulullah tidak memerintahkan untuk mencuci sisanya jika ingin sholat (berarti memang tidak najis). Dalil lainya pula bahwasanya Rasulullah sebelum dibangun masjid beliau sholat di tempat menambat kambing [5] dan mengizinkan untuk sholat padanya [6], dan tidak diragukan kambing kencing padanya. Syaikhul Islam mengatakan, “Hukum asal dari kotoran adalah suci (tidak najis) selain yang dikecualikan…” selesai. [7].  Begitu juga sisa makanan dan minuman hewan yang dimakan dagingnya adalah suci.

Sisa makanan/minuman kucing maka tidak najis, berdasar hadits Abu Qotadah tentang kucing dimana Rasulullah bersabda, “Dia tidak najis, sesungguhnya dia adalah termasuk hewan yang sering disekitar kalian” [8]. Sebagian ulama mengikutkan seperti kucing hukum semua hewan yang secara penciptaannya lebih rendah dari kucing seperti burung dan lainnya. Maka sisa makanannya suci seperti sisa kucing. Adapun selain kucing (dan yang diikutkan padanya) hewan yang tidak dimakan dagingnya maka kotoran, air kecing serta sisa makanan dan minumannya adalah najis.

Penutup

Hendaknya setiap muslim memperhatiakan urusan thaharoh baik lahir maupun batin. Thaharoh batin dengan tauhid dan mengikhlaskan setiap amal dan pebuatan untuk Allah semata. Adapun secara lahir yaitu dengan bersuci dari hadas dan najis. Agama kita adalah agama yang suci, bersih, dan bebas dari kotoran lahiriyah maupun maknawiyah.  Rasulullah bersabda, “Bersuci adalah separo dari keimanan” [9]. Rasulullah telah mengkhabarkan kepada kita tentang banyaknya penghuni kubur yang disiksa lantaran air kencing [10]. Berkaitan dengan masalah najis, hendaknya kita bersemangat untuk segera menghilangkannya jika ia mengenai badan, pakaian atau tempat kita. Terutama jika kita akan melaksanakan sholat hendaknya kita pastikan terhindar dari najis. Begitu juga jika kita ingin masuk masjid maka kita lihat sandal (atau kaki) kita, jika ada kotoran hendaknya kita hilangkan.

Semoga Allah memberi taufik kita semua pada setiap apa yang Dia cintai dan ridhoi baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Diringkas dan diterjemahkan dari Mulakhos Fiqhy karya syaikh Dr Saleh Al Fauzan hafidzahullah oleh Abu Zakariya Sutrisno di Riyadh, 13/4/2013.

www.ukhuwahislamiah.com

Catatan:

[1]    HR Bukhari (6025) dan Muslim (284) dari hadits Anas

[2]    HR Muslim (279). Diriwayatkan pula Bukhari (172) tetapi tidak ada urutan. Diriwayatkan juga oleh Lima

[3]    HR Bukhari (223) dan Muslim (287)

[4]    HR Bukhari (233) dan Muslim (1671) dari hadits Anas

[5]    HR Bukhari (234) dan Muslim (524) dari hadits Anas

[6]    HR Muslim (360) dari Jabir bin Samuroh

[7]    Lihat Majmu’ Fatawaa (20/339) (21/40,74,75,534,587,613), (25/239) dan Al Ikhtiyaaraat Al Ilmiyah

[8]    HR Abu Dawud (75) dan lafadz dari dia. Tirmidzi (192), Nasa’I (68) dan Ibnu Majah (367). Dishahihkan Tirmidzi

[9]    HR Muslim (223) dari Abu Malik Al Asy’ariy

[10]Hadits Ibnu Abbas. HR Hakim (657), Daruquthniy (460)

Kategori:Fiqih Tag:,
  1. April 13, 2013 pukul 11:44 am

    Reblogged this on As-Sunnah Sukoharjo.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: