Beranda > Fiqih, Manhaj > Siwak, Sunnah yang Banyak Dilupakan

Siwak, Sunnah yang Banyak Dilupakan


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Rasulullah mengabarkan bahwa di akhir zaman sunnah-sunah Rasulullah semakin banyak yang dilupakan manusia. Ajarannya semakin asing, bahkan di kalangan kaum muslimin sendiri. Salah satu sunnah Nabi yang sekarang banyak dilupakan kaum muslimin adalah bersiwak. Untuk itu pada kesempatan kali ini kita akan membahas masalah siwak. Tulisan ini kami sarikan dari kitab Mulakhos Fiqhiyah karangan guru kami, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hafidzahullah ta’ala .

Siwak Adalah Sunnah Nabi shalallahu ‘alihi wassalam

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

السواك مطهرة للفم ومرضاة للرب

Siwak menbuat bersih mulut dan membuat ridho Tuhan.[1]

Bersiwak adalah memakai kayu/akar yang lunak (dari pohon arak, zaitun atau yang lainnya) pada gigi dan menggosoknya agar hilang kotoran atau bau yang tidak sedap.

Diriwayatkan bahwa siwak adalah sunnah para nabi [2], yang pertama melakukannya adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.Bersiwak memiliki banyak keutamaan, sebagiannya sebagai mana dijelaskan dalam hadist diatas bahwa siwak membuat bersih mulut [3] dan mendatangkan keridhaan Allah ta’ala. Bahkan pejelasan tentang siwak dan anjuran memakainya diriwayatkan lebih dari 100 hadist.

Kapan Disunnakan Bersiwak?

Disunnahkan bersiwak dalam semua waktu bahkan untuk orang yang berpuasa sekalipun menurut pendapat yang shahih [4]. Pada waktu atu keadaan tertentu hukumnya berubah menjadi sunnah muakkadah. Berikut beberapa waktu/keadaan yang ditekankan sunnah bersiwak:

1. Saat wudhu

Sebagaimana hadist Rasulullah, Seandainya saya tidak takut memberatkan ummatku, aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap berwudhu .[5] Yaitu saat berkumur-kumur karena hal itu akan lebih membersihkan mulut.

2. Menjelang shalat

Baik shalat fardhu maupun nafilah karena hal itu akan membuat lebih bersih mulut. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam ibadah hendaknya kita berusaha dalam keadaan sebaik mungkin dan sebersih mungkin agar lebih sempurna ibadah kita.

3. Habis tidur

Sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa beliau jika bangun dari tidur di malam hari menggosok giginya dengan siwak [6]. Tidur merupakan salah satu sebab berubahnya bau mulut, sehingga disunnahkan saat bangun untuk bersiwak agar hilang bau tersebut.

4. Setelah makan

Ditekankan pula bersiwak saat berubahnya bau mulut baik karena makan maupun yang lainnya. Sehingga hilang bau tersebut.

5. Membaca al Qur’an

Agar mulut menjadi bersih dan tidak bau saat membaca Firman Allah subhanahu wata’ala.

Sifat (cara) bersiwak: hendaknya bersiwak dimulai dari sisi kanan mulut dan miswak(alat untuk bersiwak) dipengang dengan tangan kiri.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 19 Rabi’u Tsaani 1432 H (24 Maret 2011)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: http://www.thaybah.or.id / http://www.ukhuwahislamiah.com

Note:

[1]. Diriwayatkan Ahmad (24196), Nasa’I (5). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (289) dari hadist Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu.

[2]. Diriwayatkan dari Abu Ayyub oleh Ahmad (2347.), Tirmidzi (1081). Berkata Abu ‘Isa hadist Abu Ayyub hasan gharib.

[3]. Ust Abu Salma M. Rachdie P., S.Si memiliki tulisan yang bagus tentang siwak, beliau pernah meneliti tentang siwak dan kasiatnya membunuh bakteri. Link : http://abusalma.wordpress.com/2007/01/24/siwak-keajaiban-dalam-sunnah-nabi/ [diakses 24 maret 2011]

[4]. Pendapat ini yang dipilih syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (majmu’ fatawa 25/266) dan Syaikh Muhammad bin Shalih al utsaimin rahimahullah (Syarhul Mumti’ 1/151).

[5]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lafadz hadist ini milik Ahmad (9910). Diriwayatkan pula oleh Bukhari (7240) dan Muslim (252).

[6]. Muttafaqun ‘alaihi dari hadist Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. Bukhari ( 245), Muslim (255)

Kategori:Fiqih, Manhaj Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: