Beranda > Aqidah > Syahadatku Atas Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syahadatku Atas Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam


Syahadat merupakan rukun Islam yang pertama, merupakan pintu gerbang untuk menuju Islam, serta merupakan perkara yang besar dalam agama ini.

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Ali ‘imran 18)

[188] Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.

Inilah salah satu ayat yang menunjukkan bahwa diantara syarat syahadat adalah berilmu, maka dari itu mengilmui permasalahan syahadat adalah penting dan sangat utama. Begitu seringnya kita mengucapkan kalimat syahadat dan begitu ringannya lidah-lidah kita mengulang-ulang kalimat yang mulia itu. Tetapi apakah pernah terlintas pada hati dan pikiran kita tentang apa makna dan konsekuensi syahadat yang kita ucapkan selama ini. Sudahkah kita memahaminya, sehingga kita dapat mengamalkannya dengan baik???

Syahadat yang kedua, inilah yang menjadi pembahasan kami pada tulisan kali ini yaitu syahadat kita atas nabi kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketahuilah, makna dari syahadat yang kedua ini adalah pengakuan lahir batin dari seorang muslim bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah , Abdullah wa Rasuluhu yang diutus untuk semua manusia sebagai penutup rasul-rasul sebelumnya. Dalam syahadat yang kedua ini kita telah melakukan dua persaksian besar yaitu:

1. Bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah sebagaimana manusia yang lainnya.

2. Bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rasul / utusan Allah yang diberikan wahyu padanya.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ…..

110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. . . (Al Kahfi 110)

Apakah kita menyangka bahwa setelah kita membuat persaksian besar ini lantas tidak ada konsekuensi setelahnya?? tidaklah demikian, sesungguhnya ada kosekuensi yang harus kita yakini serta harus kita amalkan setelah kita bersaksi atas dua hal tersebut. Diantara konsekuensi tersebut adalah:

1. Mendudukkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat yang semestinya yaitu sebagai hamba Allah , tidak melebih-lebihkan beliau dari derajat yang seharusnya. Sebab beliau hanyalah seorang hamba yang tidak mungkin naik derajatnya menjadi Rabb.

Dari sini termasuk kesesatan jika ada yang beristi’anah (memohon pertolongan) beristighatsah (memohon supaya dilepaskan dari musibah dan bala yang menimpa), memohon kepada nabi untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, memuji nabi secara berlebihan seperti melantunkan shalawat yang mengandung pengagungan yuang berlebihan (shalawat Nariyah, Burdah, dll).

Allah berfirman kepada Rasulullah :

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.(al a’raf 188)

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

21. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”.(al Jin 21)

Dan Nabi bersabda,

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Ibnu Maryam (Isa). Sesungguhnya aku adalah hamba –Allah– maka Katakanlah: ‘Hamba Allah dan RasulNya’.” (HR. Al-Bukhari)

Makna “Al-Itharuu-an”  ialah berlebih-lebihan dalam memuji (menyanjung). Kita tidak menyembah kepada Muhammad , sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka terjerumus dalam kesyirikan. Dan Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengatakan: “Muhammad hamba Allah dan RasulNya.”

Rasulullah bersabda:

“Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah perto-longan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

2. Membenarkan semua berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Muhammad adalah Rasulullah yang diistimewakan dari manusia lainnya dengan wahyu, maka jika beliau memberitakan berita masa lalu maupun berita masa depan maka berita itu sumbernya adalah wahyu yang kebenarannya tidak boleh diragukan lagi.

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى

2. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى

3. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

(An Najm 2-4)

قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاء إِذَا مَا يُنذَرُونَ

45. Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan Tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan” (Al Anbiya’ 45)

3. Menaati Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Seorang Muslim wajib taat kepada Rasulullah Sebagai perwujudan sikap pengakuan terhadap kerasulan Beliau .

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

80. Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[321].(An Nisa 80)

[321] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.

Syaikh Abdurrahman Nasir as Sa’dy berkata “ setiap orang yang menaati Rasulullah dalam perintah-perintah dan larangan-laranganya dia telah menaati Allah , sebab Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang kecuali dengan perintah, syari’at dan wahyu yang Allah turunkan.”

….apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.(Al Hasyr 7)

4. Berhukum pada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syahadat Muhammad Rasulullah yang benar akan membawa seorang muslim kepada kesiapan dan keikhlasan untuk menjadikan sunnah Rasulallah sebagai rujukan, dia pasti menolak jika diajak untuk merujuk kepada akal, pendapat si A atau si B, hawa nafsu, maupun warisan nenek moyang dalam menetapkan suatu hukum, lebih-lebih jika terjadi ikhtilaf (perbedaan), seorang muslim yang konsekuen dengan syahadatnya dengan lapang dada akan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai imamnya.

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(An Nisa’65)

51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (An Nur 51)

[1045] Maksudnya: di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin.

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُوْلَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

47. Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan Kami mentaati (keduanya).” kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ

48. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

وَإِن يَكُن لَّهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ

49. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh.

أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya Berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim. (An Nur 47-50)

5. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang di syari’atkannya

Karena Allah mengutus Rasulullah untuk menjelaskan Agama ini secara terang tanpa ada yang disembunyikan serta dikarenakan agama ini telah sempurna sehingga tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan.

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

92. Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.(Al Maa-idah 92)

… pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.…(Al Maaidah 3)

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ :

قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.)رواه البخاري ومسلم(

وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Ummul mukminin, ummu Abdillah, Aisyah رضي الله عنها berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”

Demikianlah konsekuensi yang harus kita yakini dan kita amalkan agar syahadat kita menjadi bermanfaat di hadapan Allah .Semoga kita dimudahkan oleh Allah menempuh jalan kebenaran dan di jauhkan dari jalan kesesatan. Amin. Wallahua’lam.

(Aris Abu Ja’far)

Kategori:Aqidah
  1. Desember 30, 2008 pukul 6:41 am

    yaya

  2. Maret 15, 2011 pukul 2:32 pm

    ijin share ya…

  3. Maret 16, 2011 pukul 6:49 am

    Na’am, tafadzol akhi..
    mohon di cantumkan sumber nya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: