Beranda > Manhaj, Nasehat > NASEHAT UNTUK PARA PEMUDA MULTAZIM

NASEHAT UNTUK PARA PEMUDA MULTAZIM


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa nasehat Syaikh
sehubungan dengan para pemuda yang multazim dalam berhadapan dengan
sesamanya dan dalam menghadapi fenomena saling berlepas diri antar
mereka? Bagaimana pula pandangan Syaikh tentang banyaknya jama’ah saat
ini? Apakah Syaikh menyarankan saya untuk bergabung dengan jama’ah
tabligh dan khuruj (keluar untuk dakwah) bersama mereka?

Jawaban
Fenomena yang dialami oleh para pemuda multazim, yaitu perpecahan dan
saling menganggap sesat serta menimpakan rasa permusuhan terhadap orang
yang tidak sejalan dengan manhaj mereka, tidak diragukan lagi, bahwa ini
sangat disesalkan dan disayangkan. Bisa jadi hal ini menyebabkan
hantaman yang besar. Perpecahan semacam ini merupakan dambaan para setan
dari golongan jin dan manusia, karena setan-setan manusia dan jin tidak
menyukai para ahli kebaikan bersatu padu, mereka menginginkan
perpecahan, karena mereka tahu persis bahwa perpecahan itu akan
menghilangkan kekuatan yang hanya bisa dicapai dengan iltizam dan
ittijah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini ditunjukkan oleh
ayat-ayat berikut:

“Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”[Al-Anfal : 46].

“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai
dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” [Ali
Imran: 105]

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan
mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun
tanggung jawabmu terhadap mereka.” [Al-An’am : 159]

“Artinya : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang
telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada
Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya” [Asy-Syura : 13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kita bercerai berai dan
menjelaskan akibatnya yang mengerikan. Dan yang wajib bagi kita adalah
menjadi satu umat dan satu kalimat. Sebab, perpecahan berarti merusak
dan memecah kekuatan serta melahirkan kelemahan umat. Adalah para
sahabat radhiyallahu a’nhum, walaupun terjadi perselisihan antar mereka,
tapi tidak sampai terjadi perpecahan dan permusuhan. Perselisihan antar
para sahabat memang pernah terjadi, bahkan ketika Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam masih hidup. Tatkala Nabi kembali dari peperangan,
Jibril mendatanginya dan menyuruhnya ke Bani Quraizhah karena mereka
melanggar kesepakatan, lalu Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam berpesan
kepada para sahabat yang diutusnya,

“Tidak seorang pun yang shalat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.”

Para sahabat utusan pun segera bertolak dari Madinah menuju Bani
Quraizah, ketika tiba waktu shalat Ashar, sebagian mereka mengatakan,
“Kita tidak boleh shalat (Ashar) kecuali di tempat Bani Quraizhah
walaupun matahari telah terbenam, karena tadi Nabi Saw berpesan, “Tidak
seorang pun yang shalat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizah.”[1] Lalu
kita katakan, “Kami mendengar dan kami patuhi.”

Sementara itu, ada pula di antara mereka yang mengatakan, bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan agar kita
bersegera dan cepat-cepat berangkat, beliau tidak menginginkan kita
menunda shalat.” Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, namun beliau tidak memarahi dan tidak mencela seorang pun di
antara mereka karena pemahamannya, dan mereka sendiri tidak berpecah
belah karena perbedaan dalam memahami pesan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tersebut. Dari itu, hendaknya kita tidak berpecah
belah tapi tetap menjadi satu umat. Jika dikatakan, “Ini dari golongan
salaf, ini dari golongan ikhwan, ini dari golongan tabligh, ini dari
golongan sunni, ini dari golongan pengekor, ini dari anu, ini dari anu,
ini dari anu.” Kita akan berpecah belah dan ini bahayanya sangat besar.
Yang kita harapkan, bahwa pergerakan Islam ini adalah saling mendukung
jika memang pergerakan ini telah melahirkan berbagai kelompok yang
terpecah-pecah, saling menganggap sesat dan saling menganggap bodoh.

Untuk memecahkan problema ini hendaknya kita menempuh cara yang ditempuh
oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan memahami bahwa perbedaan ini
terlahir dari ijtihad dalam masalah yang menuntut ijtihad, dan
mengetahui bahwa perbedaan ini tidak menimbulkan pengaruh karena pada
hakikatnya tetap sepakat. Bagaimana itu? Saya berbeda dengan anda dalam
suatu masalah karena konsekuensi dalil saya berbeda dengan yang anda
utarakan. Anda berbeda pendapat dengan saya dalam masalah anu, karena
konsekuensi dalil anda berbeda dengan yang saya utarakan. Saya tetap
menghormati dan memuji anda karena anda berani berbeda dengan saya,
namun saya tetap saudara dan teman anda, karena perbedaan ini merupakan
konsekuensi dalil anda, maka kewajiban saya adalah tidak merasa
bermasalah dengan anda, bahkan saya memuji anda karena pendapat itu, dan
anda pun demikian. Jika kita mengharuskan salah seorang kita untuk
menerima pendapat yang lain, maka pemaksaan saya terhadapnya untuk
menerima pendapat saua tidak lebih baik daripada pemaksaannya terhadap
saya untuk menerima pendapatnya. Karena itu saya katakan, kita harus
menjadikan perbedaan yang bertolak dari ijtihad ini sebagai kesepakatan,
bukan perselisihan sehingga menjadi satu kalimat dan mencapai kebaikan.

Jika ada yang mengatakan, Terapi ini tidak mudah diterapkan pada orang
awam, bagaimana solusinya?

Solusinya: Pertemukan para pemimpin dan para tokoh dari setiap kelompok
untuk mengkaji dan membahas inti perbedaan sampai kita bisa bersatu dan
berpadu.

Pada suatu tahun, pernah diadukan suatu masalah di Mina -kepada saya dan
beberapa ikhwan- mungkin ini terdengar aneh oleh kalian. Saat itu, ada
dua kelompok, masing-masing terdiri dari tiga atau empat laki-laki,
masing-masing menuduh kafir dan melaknat yang lainnya, padahal mereka
para haji dan pentolan-pentolannya. Salah satu kelompok mengatakan,
bahwa kelompok lainnya itu melaksanakan shalat dengan menempatkan tangan
kanan di atas tangan kiri di atas dada, ini pengingkaran terhadap
As-Sunnah, karena sesuai As-Sunnah, menurut kelompok ini, adalah
mengulurkan (membiarkan) tangan pada paha. Sementara kelompok satunya
mengatakan, bahwa mengulurkan tangan pada paha dan tidak menumpukkan
tangan kanan di atas tangan kiri adalah kufur dan pantas dilaknat.
Perselisihan mereka cukup keras. Tapi dengan fadhilah Allah, lalu usaha
ikhwan-ikhwan dengan menjelaskan persatuan yang seharusnya diemban oleh
umat Islam, mereka akhirnya menerima dan masing-masing rela terhadap
yang lainnya.

Lihatlah bagaimana setan mempermainkan mereka dalam masalah khilafiyah
tersebut hingga mencapai tingkat saling mengkafirkan. Padahal itu salah
satu sunnah, bukan rukun Islam, bukan fardhu dan bukan kewajiban.
Intinya, sebagian ulama berpendapat bahwa meletakkan tangan kanan di
atas tangan kiri di atas dada adalah sunnah, sementara yang lain
mengatakan bahwa yang sunnah adalah mengulurkan tangan (membiarkannya
dan tidak sedakep). Sementara yang benar, yang ditunjukkan oleh
As-Sunnah adalah memposisikan tangan kanan di atas lengan kiri,
sebagaimana dikatakan oleh Sahl bin Sa’d yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari, “Orang-orang diperintahkan untuk memposisikan tangan kanan
pada lengan kirinya ketika shalat.”[2]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi saudara-saudara kita yang
memiliki acuan dan metode dalam sarana dakwah, persatuan, kecintaan dan
kelapangan dada. Jika niatnya baik tentu akan mudah mengobatinya, tapi
jika niatnya tidak baik, masing-masing bangga dengan pendapatnya dan
tidak mengakui yang lainnya, keberhasilannya akan jauh.

Catatan: Jika perbedaan itu dalam masalah aqidah, maka itu harus
diluruskan. Jika bertentangan dengan manhaj para pendahulu umat, maka
itu harus diingkari dan mengingatkan orang yang menganut paham yang
bertentangan dengan paham para pendahulu umat ini.

Adapun mengenai jama’ah Tabligh, menurut hemat saya, mereka adalah suatu
kelompok yang dengan itu Allah memberikan manfaat yang besar. Berapa
banyak orang durhaka yang ditunjuki Allah melalui tangan mereka, dan
berapa banyak orang kafir yang memeluk Islam di tangan mereka.
Pengaruhnya, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Tapi, tidak
diragukan lagi, bahwa mereka itu masih belum banyak tahu, mereka
membutuhkan para penuntut ilmu untuk menyertai mereka dan menjelaskan
kepada mereka tentang hal-hal yang biasa mereka lakukan dan mereka kira
bahwa itu tidak apa-apa dan bermanfaat, padahal sebenarnya perlu
diluruskan. Misalnya, mengharuskan sebagian mereka untuk khuruj selama
tiga hari, empat hari, empat puluh hari, enam bulan dan sebagainya,
kemudian mengatakan, “Kami melakukan ini sebagai sarana, bukan tujuan.
Yakni, kami tidak berkeyakinan bahwa hal ini disyari’atkan atau
merupakan ibadah kepada Allah, tapi kami berkeyakinan bahwa ketentuan
ini untuk meneguhkan dan mengeksiskan.” Yaitu dengan turut serta
berdakwah, melaksanakan dan berpindah-pindah dan sebagainya.

Menurut saya, mereka itu baik, banyak memberikan manfaat dan kebaikan.
Hanya saja, mereka masih kurang ilmu sehingga membutuhkan para penuntut
ilmu untuk menjelaskan kepada mereka.

Catatan saya tentang mereka, bahwa sebagian mereka saya tidak mengatakan
mereka semua jika anda ikut berdiskusi dengan mereka dalam masalah ilmu,
ia tidak senang, tidak suka berdebat atau mendalami ilmu. Jelas ini
suatu kesalahan, karena seharusnya manusia itu lebih-lebih para pemuda-
antusias terhadap ilmu dan mengkajinya, tapi dengan cara yang tenang dan
mencari kebenaran, bukan dengan perdebatan, kekerasan atau kakasaran
sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Saya berharap jama’ah ini
bisa berhubungan dengan yang lainnya dan bersatu pada kalimat yang sama.
Yang ini belajar ilmu dari yang itu, sementara yang itu belajar akhlak
dan adab dari yang ini. Wallahu a ‘lam.

[Fatawa aq‘diyyah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 778-783]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini,
Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Khauf (946) Muslim dalam Al-Jihad (1770).
Namun dalam lafazh Muslim kalimat disebutkan “Zhuhr” bukan “Ashr”.
[2]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Adzan (740).

Kategori:Manhaj, Nasehat
  1. ariefdj
    Agustus 6, 2008 pukul 8:57 am

    Padahal itu salah satu sunnah, bukan rukun Islam, bukan fardhu dan bukan kewajiban…
    :roll: .. dalam beberapa hal, sunnah itu amat sangat kudu di-perhatikan.. Ada sunnah yang sangat keras sekali, dan intinya berisi : ” Bukan umatku yang ……………………….”. dan itu artinya apa ?..Jadi, sekedar info ajah, ada beda antara Sunnah dengan Sunat… Soalnya, ada beberapa Sunnah yang ‘bobotnya’ itu fardhu… Maap kalo ada salah.. :)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: