Beranda > Fiqih > Hukum Seputar Adzan dan Iqamat

Hukum Seputar Adzan dan Iqamat


Syaikh Dr. Saleh Al Fauzan hafidzahullah

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Sebagaimana diketahui bahwa sholat fardhu yang lima harus dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan dan tidak boleh dikerjakan sebelum datang waktunya. Allah mensyariatkan adzan sebagai bentuk pemberitahuan atas masuknya waktu sholat karena banyak manusia yang tidak mengetahui masuknya waktu sholat atau sibuk dengan sesuatu sehingga tidak perhatiaan padanya.

Dalil Pensyariaatan Adzan

Adzan disyariatkan pada tahun pertama hijriah. Pada saat Rasulullah dan para sahabat bermusyawarah tentang cara mengumumkan awal waktu sholat, Abdullah bin Zaid diperlihatkan (tatacara) adzan pada mimpinya lalu mimpi tersebut dibenarkan dengan wahyu (oleh Rasulullah) [1]. Allah juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (QS Al Jumu’ah: 9)

Allah juga berfirman,

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat.. (QS AL Ma’idah: 58)

 

Kandungan Bacaan Adzan dan Iqomat

Adzan dan iqomat memiliki bacaan dzikr yang khusus yang mendandung masalah-masalah aqidah dan keimanan. Rinciannya,

  1. Pertamanya adalah takbir yaitu mengagungkan Allah jalla wa ‘ala.
  2. Bacaan syahadatain yang mengandung penetapan keesaan Allah dalam ibadah dan penetapan kerasullah bagi Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassallam.
  3. Lalu seruan untuk sholat yang mana dia adalah tiang dari agama.
  4. Lalu seruan kepada al falah yaitu keberuntungan dan keberadaan dalam kenikmatan yang tetap.
  5. Lalu ditutup dengan takbir dan kalimatul ikhlas (laa ilaaha illallah) yang mana ia adalah dzikir yang paling utama dan paling mulia. Andaikata kalimat tersebut ditimbang dengan langit dan segala isinya –selain Allah – dan bumi yang tujuh beserta isinya maka akan lebih berat karena keagungan dan keutamaannya.

Keutamaan  dan Hukum Adzan

Ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan adzan dan bahwa seorang muadzin adalah manusia yang paling panjang lehernya di hari kiamat [2]. Hukum adzan dan iqomat adalah fardhu kifayah jika telah ada yang mengerjakan maka gugur dari yang lainnya. Keduanya adalah syiar agama Islam yang nampak. Keduanya adalah kewajiban bagi laki-laki baik saat mukim maupun musafir untuk sholat lima waktu. Suatu kampung yang meninggalkan adzan maka diperangi karena keduanya adalah syiar Islam.

 

Sifat Muadzin

Pertama, hendaknya suaranya lantang (صيتا) karena yang demikian itu lebih dalam memberi tahu.

Kedua, hendaknya dia dapat dipercaya (أمنيا) karena dia dipercaya yang mana dengan adzannya dianggap masuknya waktu sholat, puasa, dan berbuka.

Ketiga, hendaknya dia juga seorang yang mengetahui atas waktu-waktu sholat  (عالما بالوقت) agar mampu adzan di awal waktunya.

 

Tuntunan pada saat adzan

  1. Lafadz adzan ada 15 kalimat sebagaimana adzannya Bilal terus menerus dengan itu dimasa Rasulullah [3].
  2. Disunnahkan untuk memperlahan bacaan adzan tanpa memanjangkannya secara berlebihan. Hendaknya berhenti setiap kalimat.
  3. Disunahkan menghadap kiblat.
  4. Menaruh kedua jari di telingan karena yang demikian itu lebih mengeraskan suara.
  5. Menoleh kekanan saat membaca “حي على الصلاة” dan ke kiri saat “حي على الفلاح”.
  6. Setelah “حي على الفلاح” kedua pada adzan subuh mengucapkan “الصلاة خير من النوم” berdasarkan perintah Rasulullah [4].
  7. Tidak boleh menambah lafadz adzan dengan bacaan lainnya baik sebelum atau setelahnya seperti tasbih, nasyid, sholawat, do’a dan lainnnya karena hal tersebut tidak diajarkan Rasulullah.
  8. Tidak boleh adzan sebelum masuk waktunya kecuali adzan subuh. Untuk adzan subuh boleh adzan sebelum waktunya agar manusia bangun dari tidurnya dan memiliki waktu yang cukup untuk bersiap-siap. Namun hendaknya tetap adzan yang kedua pada saat sudah datang waktu subuh agar manusia tahu masuknya waktu subuh yang sebenarnya.

 

Bagi yang Mendengar Adzan

  1. Disunnahkan bagi yang mendengar muadzin untuk menjawabnya dengan mengucapkan seperti apa yang ia ucapkan dan pada saat “حي على الصلاة” dan “حي على الفلاح” mengucapkan “لا حول ولا قوة إلا بالله” [5].
  2. Lalu setelah selesai adzan membaca [6],

اللهم رب هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمداً الوسيلة والفضيلة، وابعثه المقام المحمود الذي وعدته

  1. Diharamkan keluar dari masjid setelah adzan kecuali karena alasan yang benar atau berniat kembali ke masjid.
  2. Hendaknya seorang muslim segera menuju masjid setelah mendengar adzan dan meninggalkan segala kesibukan duniawi. Allah berfirman,

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS An Nuur: 37)

Seputar Iqomat

  1. Bacaan iqomat ada 11 kalimat [7].
  2. Hendaknya membacanya dengan cepat karena iqomat adalah pemberitahuan bagi yang hadir akan ditengakkannya sholat sehingga tidak perlu membacanya dengan lambat (tidak seperti adzan).
  3. Hendaknya yang iqomat adalah yang beradzan
  4. Tidak boleh iqomat kecuali setelah dizinkan oleh imam atau setelah adanya isyarat darinya.

Sekian semoga bermanfaat. Sholawat dan salam atas Rasulullah.

Diterjemahkan dan diringkas dari “Mulakhos Fiqhy” karya Syaikh Dr. Saleh al Fauzan hafidzahullah ta’ala oleh Abu Zakariya Sutrisno (Riyadh, 1 Mei 2013)

www.ukhuwahislamiah.com

Catatan:

  1. HR Abu Dawud (499), Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706). Asalnya ada dalam shahih Muslim dari hadits Ibnu Umar (377).
  2. HR Muslim (387) dari hadits Muawwiyah.
  3. Lihat catatan referensi hadits nomor 1. Dalam lafadz Abu Dawud dari Abdullah bin Zaid dia berkata,

لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلَاةِ طَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فِي يَدِهِ، فَقُلْتُ: يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ؟ قَالَ: وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ فَقُلْتُ: نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ؟ فَقُلْتُ لَهُ: بَلَى، قَالَ: فَقَالَ: تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: ثُمَّ اسْتَأْخَرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ، قَالَ: وَتَقُولُ: إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَلَمَّا أَصْبَحْتُ، أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرْتُهُ، بِمَا رَأَيْتُ فَقَالَ: «إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَقُمْ مَعَ بِلَالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ» فَقُمْتُ مَعَ بِلَالٍ، فَجَعَلْتُ أُلْقِيهِ عَلَيْهِ، وَيُؤَذِّنُ بِهِ، قَالَ: فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ، وَيَقُولُ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَقَدْ رَأَيْتُ  مِثْلَ مَا رَأَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَلِلَّهِ الْحَمْدُ»

Pada saat Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar menggunakan lonceng yang dipukul untuk mengumpulkan manusia pada saat sholat (maka hal tersebut) membuatku gelisah. Dan saat saya tidur (seolah)ada seorang laki-laki membawa lonceng ditangannya. Maka saya berkata, “Wahai hamba Allah apakah kamu menjual lonceng!” Dia berkata, “Apa yang akan kamu perbuat dengannya?” Maka saya berkata, “ Kami menyeru dengannya untuk sholat.” Dia berkata, “apakah kamu mau saya tunjukkan yang lebih baik dari hal tersebut?” Saya menjawab, “Tentu mau.” Dia berkata, “Hendaknya kamu mengatakan: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu an laa ilaaha illallah, Asyhadu an laa ilaaha illallah, Asyhadu anna Muhammadarrasuulullah, Asyhadu anna Muhammadarrasuulullah, Hayya ‘alash sholaah, Hayya Alash sholaah, Hayya ‘alal falaah, Hayya ‘alal falaah, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah.” Kemudian dia mundur dari saya tidak telalu jauh lalu berkata, “Jika kamu iqomat maka (ucapkan): Allahu akbar, Allahu akbar, asyhadu anlaa ilaaha illallah, asyhadu anna Muhammadarrasulullah, hayya ‘alash sholaah, hayya ‘alal falaah, qodqoomatish sholah, qodqoomatish sholah, Allahu akbar, Alllahu Akbar, laa ilaaha illallah.” Pada saat pagi harinya saya menemui Rasulullah, lalu saya mengabarkan apa yang saya lihat (dalam mimpi) maka beliau bersabda, “Ini adalah mimpi yang benar insyaallah”. Maka berdirilah bersama Bilal dan ajarilah dia dengan apa yang kamu lihat, lalu agar dia beradzan sesungguhnya dia lebih lantang suaranya darimu.” Maka saya berdiri bersama Bilal, lalu aku ajari dia, lalu dia beradzan dengannya. Berkata: maka Umar bin Khatab mendengar (bacaan tersebut) dan saat itu dia di rumahnya. Lalu dia keluar sambil menyeret selendangnya dan berkata, “Demi dzat yang mengutusmu dengan haq, wahai Rasulullah sungguh saya telah melihat (dalam mimpi) seperti yang ia lihat juga. Rasulullah bersabda, “Bagi Allahlah segala puji.”

4. Hadits Muhammad bin AbdilMalik bin Abi Mahdzurah dari bapaknya dan dari kakeknya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud (500), Nasa’I (632). Diriwayatkan juga dari hadits Bilal oleh Tirmidzi (198), Ibnu Majah(715).
5. HR Bukhari (613) dari hadits Muawwiyah.
6. HR Bukhari (614), Abu Dawud (529), Tirmidzi (211), Nasa’I (679) dan Ibnu Majah (722) dari hadits Jabir bin Abdillah.
7. Lihat catatan ke 3.

About these ads
Kategori:Fiqih Tag:, ,
  1. dewi.nurida@gmail.com
    Mei 1, 2013 pukul 3:54 pm | #1

    Sukron
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  2. Kuat Slamet
    Mei 9, 2013 pukul 12:09 pm | #2

    Assalamualaikum warokhmatullohi wabarokatuhu, Uztad saya mau nanya, dimushola saya ada muadzin yang setiap adzan mengucapkan lafadz “حي على الصلاة” didengan tidak enak yaitu “khayalal sholah”, apakah lafadz ini tidak mempengaruhi ma’na dan arti dari ajakan sholat dimaksud ? Sudah sering saya tegur namun tetap tidak dihiraukan. Yang saya takutkan adalah generasi berikutnya akan mencontoh aknum dimaksud. Dan saya jadi membatasi diri untuk bergaul dengan ybs. Tolong pencerahan dan berilah bahan untuk menjelaskan pada ybs termasuk sangsi dari perbuatannya secara syar’i terima kasih, wassalam,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: