Beranda > Nasehat > Pena Bermata Dua

Pena Bermata Dua


Pena Bermata Dua

Pena Bermata Dua

 Nasehat Bagi Para Penulis

 Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr [1]

Semoga Allah subhanahu wata’ala  memuliakan pena sebagai makhluk pertama ciptaan-  Nya[2], sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam. Dan Allah telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Nun, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qolam :1)

Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengan pena bahwa dakwah agama Islam bersandar kepada seorang Nabi yang ma’shum yang sempurna akal dan kekuatannya. Oleh sebab itu, Allah meneruskan ayat di atas dengan firman-Nya :

مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

“Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (QS. Al-Qolam:2)

Sebab, gila merupakan penyakit yang dapat menghalangi diri dari menjalankan kewajiban agama dan menyampaikan dakwah, juga merupakan salah satu factor penyebab melampau batas.  

Karena itu, siapa yang ada padanya penyakit gila, ia tidak bolek memegang pena atau menulis dengannya. Apa jadinya jika pena ini disandarkan kepada seorang gila yang ada dimuka bumi ini? Sungguh tiada lain dia akan merusak umat. Sehingga kondisinya tak jauh berbeda dengan orang gila yang diberi bom atau senjata penghancur masal lainnya.

Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pena pada beberapa tempat pada kitab-Nya yang mulia, seperti pada firman-Nya :

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ

كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (keringnya) niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu) Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman : 27)

Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam juga telah menjelaskan akan urgensi ilmu dan ketinggian kedudukannya dalam Islam. Kemudian, -selain Allah telah bersumpah dengan pena pada surat Al-Qolam- sesuatu yang pertama kali mengetuk pendengaran Nabi shalallohu’alaihi wasallam dari beberapa ayat Al-Qur’an yang mulia adalah pengagungan terhadap kedudukan pena pada beberapa ayat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya shalallohu’alaihi wasallam. Allah berfirman :

 ٤. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

 ٥. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

 “(Allah) yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena (baca tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq:4-5)

Karena begitu pentingnya ilmu dan sarana-sarana untuk memperolehnya, Allah subhanahu wata’ala menjelaskan hal itu kepada kita di sela-sela surat Al-‘Alaq. Karena masyarakat Jahiliyah dahulu adalah umat yang Ummiy; tidak bisa baca tulis kecuali sedikit, dan ini merupakan penyakit terparah dalam sejarah perjalanan waktu.

Kemudian, tatkala bahan bacaan mudah terlupakan dan hilang, maka agama Islam mewajibkan agar bacaan itu dicatat dengan sarana tulisan. Sedangkan pena adalah pena meskipun bentuk dan sarananya berubah-ubah dan berbeda-beda.

SEBUAH NASEHAT

Pena adalah amanah yang ada pada pundak orang yang membawanya, tidak sepatutnya ia menggoreskan pena itu melainkan untuk menulis risalah yang diturunkan kepada para Nabi dan pewaris mereka, yaitu ulama. Maka, salah dalam menggunakan pena seperti salah dalam memainkan senjata, keduanya sama-sama mengakibatkan rusaknya akal dan jiwa. Dan dalam kesempatan ini, seorang pujangga bersyair :

“Andai ia menulis pada lembaran kertasnya dengan sombong,

Maka ia dapat menghinakan suatu bangsa dan meninggikan yang lainnya”

Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi para penulis untuk bertakwa kepada Allah dengan goresan pena-pena mereka. Sebab ucapan adalah amanah yang dikalungkan pada ujung pena mereka. Dan Allah akan menanyakan pertanggungjawaban mereka atas amanah tersebut, sebuah amanah yang enggan dipikul oleh langit-langit, bumi, dan gunung-gunung, bahkan semuanya bergetar selama beberapa hari lantaran begitu beratnya amanah itu.

Tidak boleh bagi para pemilik pena yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad shalallohu’alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul untuk melampaui batas dalam menggunakan pena, sehingga bisa berakibat menyimpang dari kebenaran, memihak kepada kebatilan dan kesesatan, menuduh orang lain, mengejek dan mengolok-olok mereka, berlaku masa bodoh terhadap mereka dan memuji diri sendiri atau memuji temannya namun sayangnya ia tidak memuji Rabb-nya.

Maka, pena diciptkan untuk mensucikan dan mengagungkan Allah subhanahu wata’ala, mengajak manusia kepada-Nya, mengenalkan Allah kepada mereka sebagai sesembahan satu-satunya yang haq, bukan untuk mendekatkan diri kepada penghuni dunia, melariskan dagangan bid’ah, menuliskan pujian dusta, dan tidak pula untuk mendakwahkan manhaj-manhaj rusak dan hal-hal buruk lainnya.

Alangkah banyaknya pena yang harus dipatahkan, betapa banyak para penulis yang harus diberhentikan. Sebab mereka tidak cakap dalam menggunakan pena, mereka malah membuka lembaran-lembaran kebatilan, demi mendapatkan kesenangan jiwa dan kepuasan. Wallahul Musta’an.

[1]. Diterjemahkan oleh Abu Musa al-Atsari dari sebuah makalah yang berjudul “Tughyan al-Qolam, Majalah Ommaty, hlm.30 edisi 25, Sya’ban 1427H. (September 2006)

[2]. Ulama berselisih tentang makhluk pertama yang Allah ciptakan menjadi dua : Kelompok pertama menyatakan, makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Kelompok kedua berpendapat, makhluk yang Allah ciptakan pertama kali adalah ‘Arsy, pen.

Diketik ulang dari :  Majalah Adz-Dzakhiirah Vol.8 No.5 Edisi 47 – 1430 H , hlm. 52-54

Artikel : www.fsms.or.id |www.assunnahsurabaya.wordpress.com

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: