Beranda > Fiqih, Manhaj > Hukum Seputar Puasa Ramadhan

Hukum Seputar Puasa Ramadhan


{ Bagian pertama dari 3 tulisan tentang puasa }

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihiwasallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Setelah sebelumnya membahas tentang thaharah, shalat, dan zakat, pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara singkat hukum-hukum seputar puasa. Semoga Allah memberi taufik kepada kita dan kaum muslimin semuanya untuk senantiasa istiqomah dalam berlajar, beramal, dan berdakwah di atas Kitab dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Pendahuluan
Puasa ramadhan termasuk salah satu rukun Islam. Puasa ramadhan hukumnya wajib berdasarkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah dan ijma’ kaum muslimin. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al Baqarah: 183).
Rasulullah bersabda, “Islam dibangun atas lima perkara…” lalu menyebut diantaranya “… dan puasa ramadhan.” [1]

Definisi
Puasa secara bahasa artinya menahan. Secara istilah syara’ puasa adalah ibadah kepada Allah ta’ala dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari [2].
Diwajibkan berpuasa ketika telah masuk bulan Ramadhan baik karena melihat hilal maupun menggenapkan bulan Sya’ban. Pembahasan tentang awal ramadhan kami membahasnya dalam artikel Amalan di Bulan Ramadhan.

Keutamaan dan Hikmah Puasa
Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya di masa lalu pasti diampuni” [3].
Diantara hikmah disyariatkannya puasa adalah puasa mensucikan dan membersihkan jiwa dari segala kotoran dan dari akhlak-akhlak yang tercela. Puasa mempersempit jalan-jalan syaitan dalam tubuh manusia. Dalam puasa juga terkandung zuhud terhadap dunia dan segala syahwat yang ada didalamnya. Sebaliknya ia memperkuat semangat mengejar akhirat.
Golongan Manusia Ditinjau dari Kewajiban Puasa
1. Golongan yang wajib menjalankan puasa di bulan Ramadhan: yaitu setiap muslim yang sehat dan mukim kecuali wanita yang haidh dan nifas.
2. Golongan yang diperintahakan untuk mengqadha: yaitu wanita haidh, nifas, dan orang yang sakit yang tidak mampu berpuasa.
3. Boleh memilih antara puasa dan qadha: yaitu orang yang safar dan sakit yang mampu untuk berpuasa.
Waktu Puasa
Allah berfirman,
وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ
Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. al Baqarah: 187).
Ayat yang mulia ini menjelaskan awal dan akhir waktu puasa. Waktu puasa dimulai dari terbitnya fajar kedua yaitu cahaya yang membentang di ufuk dan berakhir dengan tenggelamnya matahari. Sebagian manusia bersegera dalam sahur, mulai puasa satu jam atau beberapa saat sebelum terbit fajar. Maka hal ini menyelisihi syariat dan berarti mereka berpuasa sebelum waktunya.

Diantara Sunnah dalam Puasa

Diantara sunnah puasa yaitu:
1. Bersahur
Disunnahkan bersahur dan disunnahkan pula mengakhirkannya. Rasulullah bersabda, “Bersahurlah karena didalam sahur ada berkah.” [4]

2. Menyegerakan berbuka
Sebagaimana hadist dari Sahl bin Sa’id radhiyallahu ‘anhu, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan dalam berbuka.” [5]

3. Berbuka dengan ruthab/tamar/air.
Disunnahkan memulai berbuka dengan ruthab (kurma segar). Jika tidak ada, maka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air[6], dan jika tidak ada juga, maka berbuka dengan apa yang ada baik berupa makanan atau minuman.

4. Berdo’a saat buka
Disunnahkan berdo’a saat berbuka. Di antara do’a yang diriwayatkan dari Nabi yaitu:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah. [7]

Hendaknya seorang yang berpuasa menjauhi segala apa yang dilarang dan menyibukan diri dengan dzikir, membaca qur’an, dan amalan-amalan lainnya yang disyariatkan.

Hal-Hal yang Merusak Puasa

Ada beberapa hal yang merusak puasa yang hendaknya setiap muslim menjauhinya. Diantaranya ada yang membatalkan puasa dan ada pula yang mengurangi pahalanya. Antara lain:
1. Jima’
Jika seseorang berjima’ dengan istrinya maka batal puasanya dan juga diwajibkan untuk mengqadha puasanya serta wajib menjalankan kafarah. Kafarahnya yaitu memerdekakan budak. Akan tetapi, jika tidak mampu, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut dan jika tetap tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.
2. Keluar mani
Jika keluar mani karena mencium, memegang (istri), onani, atau memandang (wanita) dengan terus menerus (dan disertai syahwat) maka rusak puasanya. Namun, jika keluarnya mani karena mimpi maka puasanya tetap sah.
3. Makan dan minum secara sengaja
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam dalam al Baqarah (ayat 187) di atas. Namun, jika makan dan minum tanpa sengaja, maka tidak membatalkan puasa. Sebagaimana dalam sebuah hadist beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika diantara kalian lupa padahal sedang berpuasa kemudian makan dan minum, maka hendaknya menyempurnakan puasanya karena Allah sedang memberinya makan dan minum.” [8]
4. Mengeluarkan darah dari tubuh
Jika mengeluarkan darah dari tubuh seperti karena bekam atau semisalnya, maka hal ini membatalkan puasa.[9] Jika darah keluar secara tidak sengaja seperti mimisan atau gusi berdarah atau karena luka, maka tidak mengapa.
5. Muntah secara sengaja
Berdasar sabada rasulullah, “Barangsiapa muntah dengan terpaksa maka tidak ada qadha baginya, barangsiapa berusaha muntah dengan sengaja maka atasnya qadha.”[10]
Seseorang yang berpuasa hendaknya tidak berlebihan dalam berkumur dan menghirup air ke lubang hidung saat berwudhu, karena hal tersebut dikhawatirkan menyebabkan air masuk ke tenggorokan. Rasulullah bersabda, “Berdalam-dalamlah dalam beistimsyak kecuali jika kalian dalam keadaan puasa.” [11]
Seseorang yang berpuasa hendaknya senantiasa menjaga pendengaran, penglihatan, dan lisannya. Hendaknya menjauhi dusta, ghibah, mencela orang lain dan semisalnya, serta menjauhi perbuatan dan perkataan keji dan kotor. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan yang kotor dan berperilaku dengannya, maka Allah tidak membutuhkan mereka meninggalkan makanan dan minumannya.” [12]

Mengqadha’ Puasa
Barangsiapa tidak berpuasa di bulan ramadhan karena udzur yang syar’i seperti sakit, safar, haidh, nifas, menyusui atau karena yang lainnya, maka diwajibkan atas mereka menggantinya pada hari yang lain. Allah berfirman,
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. al Baqarah: 184)
Disunnakan untuk bersegera dalam mengqadha agar terlepas dari tanggungan. Tidak boleh mengakhirkannya sampai masuk ramadhan berikutnya. Barangsiapa mengakhirkannya sampai masuk ramadhan berikutnya tanpa alasan yang dibenarkan maka selain wajib mengadha ia juga wajib membayar fidyah karenanya. [13]

Fidyah
Ada sebagian orang yang tidak mampu berpuasa di bulan ramadhan dan tidak pula mampu mengqadhanya, maka bagi orang seperti ini wajib baginya fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin pada setiap hari yang ditinggalkannya. Kadarnya yaitu setengah sha’ nabawi (sekitar 1.6 kg). Allah berfirman,
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (QS. al Baqarah: 184)
Termasuk golongan orang yang menjalankannya adalah orang yang sudah lanjut usia. Sebagaimana perkataan ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat di atas, “…yaitu laki-laki atau wanita yang lanjut usia, yang mana mereka tidak mampu melakukan puasa, maka mereka tiap harinya memberi makan orang miskin.”[14] Orang yang sakit yang kemungkinan sembuhnya kecil dihukumi juga demikian, mereka cukup membayar fidyah.
Bagi wanita hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa karena dirinya sendiri atau khawatir karena diri sendiri serta bayi/anaknya maka cukup qadha saja. Adapun jika khawatir akan bayi/anaknya saja maka wajib baginya mengqadha dan membayar fidyah [15].

Tentang niat

Untuk puasa wajib, seperti puasa ramadhan, puasa nadzar, puasa kafarah diharuskan untuk berniat di malam harinya. Berdasar sabda Rasulullah, “Barangsiapa belum berniat untuk puasa sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa bagianya.”[16] Adapun untuk puasa sunnah tidak mengapa berniat setelah terbit fajar asalkan belum melakukan hal-hal yang dilarang dalam puasa seperti makan, minum dan lainnya. Sebagaimana hadist riwayat Aisyah bahwa suatu hari Nabi bertanya, “Apakah kalian memiliki sesuatu (untuk dimakan)?” Kami pun menjawab, “tidak,” kemudian berliau berkata, “kalau begitu saya berpuasa.” [17]

Semoga bermanfaat, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan para sahabatnya.

Tulisan ini banyak mengambil faedah dari kitab Mulakhos Fiqhiyah karangan Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan hafidzahullah ta’ala.

Selesai ditulis di Riyadh, 15 Jumadil Akhir 1432 H (18 Mei 2011)
Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: http://www.thaybah.or.id / http://www.ukhuwahislamiah.com

Notes:
[1]. Muttafaqqun ‘alaih dari hadist Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Bukhari (8), Muslim (16)
[2]. Definisi puasa oleh syaikh Utsaimin (Syarhul Mumti’, 6/298)
[3]. Muttafaqun ‘alaihi. Bukhori (1901), Muslim (760)
[4]. Bukhari (1923), Muslim (1095)
[5]. Bukhari (1957), Muslim (1098)
[6]. Sebagaimana hadist dari Anas, diriwayatkan Ahmad (12612), Abu Dawud (2356), Tirmidzi (695)
[7]. Diriwayatkan Abu dawud (2357) dari hadist ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu.
[8]. Bukhari (6669), Muslim (1155) dari hadist Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[9]. Masalah ini cukup banyak perselisihan di kalangan ulama’, kebanyakan ahli ilmu mengatakan bekam tidak membatalkan puasa, diantaranya berdalil dengan hadist riwayat Bukhari (1938). Allahu A’lam, penulis sendiri cenderung kepada pendapat Imam Ahmad, bahwa bekam membatalkan puasa. Pendapat ini yang dikuatkan syaikhul islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Utsaimin (Syarhul ‘Mumti, 6/382), Syaikh Fauzan (Mulakhos Fiqiyah 1/278) dan lainnya.
[10]. dari hadist Abu Hurairah, diriwayatkan Abu dawud(2380), Tirmidzi (719), Ibnu Majah (676)
[11]. Abu Dawud (142), Tirmidzi (787), Nasai (87), Ibnu Majah (407)
[12]. Bukhari(1903), dari hadist Abu Hurairah
[13]. Silahkan merujuk kitab Mulakhos fiqiyah 1/281-282 untuk pembahasan lebih lanjut masalah ini.
[14]. HR Buhari 4505
[15]. Pendapat ini yang dikuatkan syaikh Utsaimin, lihat penjelasan beliau panjang lebar di syarhul mumti’ (6/348-350)
[16]. hadist Riwayat Nasa’I (2340) dari Aisyah. Diriwayatkan pula dari Hafshah hadist yang serupa, Abu Dawud(2454), Tirmidzi (729), Nasa’I (2330), Ibnu Majah (1700)
[17]. Diriwayatkan jama’ah kecuali Bukhari. Muslim (1154), Abu Dawud (2455), Tirmidzi (732), Nasa’I (2324), Ibnu Majah (1701)

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: