Beranda > Ilmu, Manhaj > Berdakwah di Jalan Allah dan Akhlak Seorang Da’i

Berdakwah di Jalan Allah dan Akhlak Seorang Da’i



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. As Sajdah: 24).

Bagi seorang penuntut ilmu tentu tidak samar lagi bahwa berdakwah di jalan Allah adalah salah satu perkara yang paling penting dalam agama. Dengan dakwah, agama ini akan tinggi. Dengan dakwah, manusia menjadi tahu mana yang hak dan mana yang batil. Dengan dakwah, kebaikan tersebar dan keburukan hilang atau berkurang.

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas secara singkat tentang tema berdakwah ilallah. Artikel ini kami sarikan dari kutaib “ad Dakwatu Ilallah wa Akhlaaqu ad Du’aat ” oleh Samaahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah[1].

Hukum dan Keutamaan Berdakwah di Jalan Allah

Hukum berdakwah di jalan Allah adalah wajib sesuai kemampuan masing-masing. Dalil-dalil yang menunjukan akan hal tersebut sangat banyak. Diantaranya firman Allah,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar . merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran: 104)

Para ulama juga menjelaskan bahwa berdakwah di jalan Allah adalah fardhu kifayah. Sehingga jika di suatu tempat atau suatu masa tidak ada yang berdakwah dijalan Allah, maka semua yang tinggal di masa dan waktu tersebut mendapat dosa.

Tentang keutamaan berdakwah juga telah banyak disebut dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah , diantaranya Allah berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Ayat yang mulia ini menjelaskan keutamaan orang-orang yang berdakwah di jalan Allah(baca: para da’i) dan pujian atas mereka yang mana tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya dari pada mereka.

Rasulullah bersabda,

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Barangsiapa menujukkan atas kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.[2]

Rasulullah juga bersabda,

فوالله ! لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم

Demi Allah! Seandainya Allah menunjuki seseorang karenamu lebih baik bagimu daripada kamu mendapat onta merah.[3]

Dua hadist di atas sudah cukup menunjukan betapa besar keutamaan berdakwah di jalan Allah. Bahwasanya berdakwah di jalan Allah didalamnya terdapat kebaikan yang sangat banyak, dan seorang da’i akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mendapatkan hidayah melaluinya.

Metode Berdakwah di Jalan Allah

Di dalam firmanNya, Allah telah menjelaskan tentang tatacara berdakwah di jalanNya ,

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. an Nahl: 125)

Dalam ayat yang mulia tersebut Allah menjelaskan bagaimana seyogyanya dakwah itu dilakukan dengan cara yang benar. Yang pertama dengan hikmah, yaitu dengan dalil-dali yang jelas yang membedakan yang hak dan yang batil. Oleh karena itu sebagian ahli tafsir menafsirkan hikmah dengan al Qur’an dan sebagian yang lain menafsirkannya dengan dalil-dalil dari al Quran dan Sunnah. Hendaknya seorang da’I hendaknya berdakwah dengan hikmah dan memulai dengannya. Jika mad’u atau orang yang didakwahi adalah orang yang meremehkan syariat dan memiliki penyimpangan-penyimpangan maka hendaknya didakwahi dengan nasehat yang baik (mau’idhah hasanah) yaitu dengan ayat-ayat dan hadist yang berisi peringatan, acaman dan janji dari Allah. Dan seandainya di dalam diri mad’u ada kerancuan berfikir (syubhat) sehingga menolak kebenaran dan bersikukuh dalam kesalahan maka tidak mengapa kita mendebatnya (jidal) dengan cara yang baik sehingga tersingkaplah syubhat tersebut dan kembali kepada kebenaran.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. (QS. at Tahriim: 9)

Apa yang Harus Kita Dakwahkan?

Hendaknya du’at(baca: para da’i) menyeru manusia sebagaimana para Rasul diutus, yaitu menyeru mereka ke jalan Allah sebagaimana firman Allah dalam surat an Nahl diatas, ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ. Jalan Allah adalah islam, yaitu shirat al mustaqim, yaitu agama Allah yang dengannya Nabi Muhammad diutus. Bukan menyeru manusia kepada seseorang atau pendapat seorang, bukan juga pada kelompok tertentu. Hendaknya seorang da’i menyeru manusia kepada aqidah yang benar, untuk mentauhidkanNya dan beriman dengan apa yang telah dikabarkan Allah dan RasulNya. Dan hendaknya juga seorang da’I menyeru manusia untuk menegakkan agamanya yaitu dengan mengamalkan semua yang telah diwajibkan seperti shalat, zakat, puasa, serta menjauhi apa-apa yang telah dilarang seperti zina, minum khamr, permusuhan, riba dan semisalnya. Sehingga manusia masuk ke dalam Islam secara kafah, tidak sepotong-sepotong.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. al Baqarah: 208)

Tujuan dari Dakwah

Dakwah memiliki tujuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari kesyirikan menuju tauhid. Ini semua adalah tujuan yang mulia dari dakwah, sebagaimana Allah berfirman,

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (QS. al Baqarah : 257)

Akhlak Seorang Da’i

Agar dakwah yang disampaikan dapat diterima oleh manusia hendaknya seorang da’i memperhatikan sifat dan akhlak yang ia miliki. Allah dan RasulNya telah menjelaskan sifat-sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang da’I, diantaranya :

1. Ikhlas

Hendaknya seorang da’i mengikhlaskan dakwahnya karena Allah semata bukan karena riya’, atau mengharap pujian manusia atau yang lainnya. Selain itu hendaknya juga diniatkan untuk mengharap wajah Allah semata.

2. Berbekal Bashirah(ilmu)

Berilmu, ini juga tidak kalah pentingnya yang harus dimiliki seorang da’i. Dua hal ini adalah syarat utama yang harus dimiliki seorang da’I sebagaimana firmanNya,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. (QS. Yusuf: 108)

3. Hati-hati dan Lemah-Lembut dalam Berdakwah

Tidak diragukan lagi lemah –lembut adalah salah satu faktor diterimanya dakwah. Sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali ‘Imran: 159)

Maka hendaknya seorang da’i tidak bersikap keras atau kasar dalam berdakwah, tidak juga bersikap tergesa-gesa didalamnya. Lihatlah firman Allah dalam kisah Nabi Musa dan Harun saat Allah mengutus mereka berdua kepada Fir’aun,

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha: 44)

4. Mengamalkan Apa yang Didakwahkan

Hendaknya seorang da’i mengamalkan apa yang ia dakwahkan dan menjadi teladan didalamnya. Jangan sampai ia sibuk mendakwahi manusia sedang ia lalai terhadap dirinya sendiri. Allah berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?

Hal ini sebagaimana dalam hadist dari Abi Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu dia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار في الرحا فيجتمع إليه أهل النار فيقولون يا فلان ما لك ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر فيقول بلى كنت آمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وآتيه متفق عليه

Pada hari kiamat, didatangkan seorang pria kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka hingga usus-ususnya keluar terburai dari perutnya, lalu ia berputar-putar di dalamnya sebagaimana seekor kedelai berputar mengitari penggilingan. Para penghuni neraka pun berkumpul dan berkata kepada orang itu : wahai Fulan, apa gerangan yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dulu senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar? Ia menjawab : betul, aku dulu memerintahkan kepada yang ma’ruf namun aku tidak melaksanakannya dan aku melarang dari yang munkar namun aku mengerjakannya.[4]

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 24 Rabi’ul Awwal 1432 H (27 Februari 2011)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: http://www.thaybah.or.id / http://www.ukhuwahislamiah.com

Note:

[1]. Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqoolaat Mutanawwi’ah oleh Samahatul Imam Ibnu Bazz rahimahullah (Juz 1 hal.324-348)

[2]. Diriwayatkan imam Muslim dalam Shahihnya

[3]. Muttafaqun ‘alaihi

[4]. Muttafaqun ‘alaihi

About these ads
Kategori:Ilmu, Manhaj Tag:, ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: