<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Adab Membaca Al-Quran</title>
	<atom:link href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/16/adab-membaca-al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/16/adab-membaca-al-quran/</link>
	<description>Menebarkan dakwah ilmiah, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2009 13:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: zahra</title>
		<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/16/adab-membaca-al-quran/#comment-2017</link>
		<dc:creator>zahra</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:28:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/16/adab-membaca-al-quran/#comment-2017</guid>
		<description>mengakhiri bacaan al-qur&#039;an dengan membaca shadaqollohul &#039;adhim itu bagaimana?termasuk qiro&#039;ah bagaimana?


&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Abu Ja&#039;far:&lt;/strong&gt;
Membaca shadaqollohul &#039;adhim di setiap selesai membaca Al Quran maka itu termasuk perkara baru yang belum ditemui di zaman Nabi dan para sahabatnya (bid&#039;ah), untuk pembahasan lebih lengkap bisa merujuk pada kitab bid&#039;ah-bid&#039;ah dalm Al Qur&#039;an atau Kitab Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul &quot;Bimbingan bagi Pribadi dan Masyarakat Muslim&quot;. Untuk Qiro&#039;ah, jika yang di maksud sebagaimana yang ada di Indonesia kebanyakan yaitu di lagukan secara berlebihan. Merujuk pada jawaban Al Ustad Ma&#039;ruf Hafidzuhullah menyikapi hal ini beliau melarangnya, karena membaca Al Qur&#039;an adalah ibadah sedangkan ibadah itu syaratnya ada dua dan salah satunya adalah ikhlas. Membaca secara berlebihan itu tidaklah mereka lakukan melainkan untuk tampil di hadapan manusia, ketika mereka beribadah di malam hari misalnya tidak akan kita temui mereka melagukannya sebagaimana mereka melagukannya ketika dihadapan manusia (dalam acara-acara tertentu). Itu jika yang di maksud adalah qori&#039;ah sebagaimana yang kami gambarkan diatas. Namun disyari&#039;atkan membaguskan bacaan ketika membaca Al Qur&#039;an serta sesuai dengan tajuwidnya (tartil). Wallahua&#039;lam&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mengakhiri bacaan al-qur&#8217;an dengan membaca shadaqollohul &#8216;adhim itu bagaimana?termasuk qiro&#8217;ah bagaimana?</p>
<blockquote><p><strong>Abu Ja&#8217;far:</strong><br />
Membaca shadaqollohul &#8216;adhim di setiap selesai membaca Al Quran maka itu termasuk perkara baru yang belum ditemui di zaman Nabi dan para sahabatnya (bid&#8217;ah), untuk pembahasan lebih lengkap bisa merujuk pada kitab bid&#8217;ah-bid&#8217;ah dalm Al Qur&#8217;an atau Kitab Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul &#8220;Bimbingan bagi Pribadi dan Masyarakat Muslim&#8221;. Untuk Qiro&#8217;ah, jika yang di maksud sebagaimana yang ada di Indonesia kebanyakan yaitu di lagukan secara berlebihan. Merujuk pada jawaban Al Ustad Ma&#8217;ruf Hafidzuhullah menyikapi hal ini beliau melarangnya, karena membaca Al Qur&#8217;an adalah ibadah sedangkan ibadah itu syaratnya ada dua dan salah satunya adalah ikhlas. Membaca secara berlebihan itu tidaklah mereka lakukan melainkan untuk tampil di hadapan manusia, ketika mereka beribadah di malam hari misalnya tidak akan kita temui mereka melagukannya sebagaimana mereka melagukannya ketika dihadapan manusia (dalam acara-acara tertentu). Itu jika yang di maksud adalah qori&#8217;ah sebagaimana yang kami gambarkan diatas. Namun disyari&#8217;atkan membaguskan bacaan ketika membaca Al Qur&#8217;an serta sesuai dengan tajuwidnya (tartil). Wallahua&#8217;lam</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
